Arsip
All posts by Bibit Raharjo
sumber : from email …
Subuh itu, samar-samar kudengar suara adzan dari mushola dekat rumah, ingin rasanya segera bangkit dan pergi menuju asal suara itu, namun rasa kantuk dan keinginan untuk memperpanjang tidur lebih kuat menyelimuti fikiranku, kemudian mengikat seluruh tubuhku dan mengunci seluruh sendi-sendi hingga aku tidak bisa membangunkan diri.
Tiba-tiba kenyamanan itu terbuyarkan, oleh suara panggilan seorang laki-laki yang penuh kharisma dengan suara khasnya, yang mampu meluluh lantakan keengganan dan menghancurkan kemalasanku, selimut dan ikatan itu akhirnya terurai, suara itu membebaskan dan mengarahkanku untuk pergi menuju mushola. Suara itu adalah ayahku, yang sejak sebelum datang waktu subuh, telah lama berdiri, rukuk, sujud dan duduk diatas sejadahnya yang berwarna hijau itu.
Sekarang aku tahu, bahwa ayahku selalu bangun lebih awal dan melaksanakan shalat Tahajud, memohon kepada Allah agar kami sekeluarga diberikan kesehatan dan keselamatan. Bermunajat kepada Yang Rahman agar anak-anaknya menjadi Imam bagi orang-orang yang bertaqwa.
Terimakasih Ya Rabb, seandainya aku tidak memiliki ayah yang biasa membangunkanku dikala subuh, mungkin sudah berbilang bulan aku lalui hari tanpa shalat subuh. Terimakasih Ayahku…
Jam 6.30 aku sudah siap berangkat kesekolah, dengan baju kemeja warna putih, dan celana pendek warna merah, dilengkapi dengan dasi dan topi serta sepatu hitam kesayanganku. Seperti hari-hari sekolah-ku yang lain, ayahku dengan sabar sudah menunggu-ku di halaman, ditemani dengan motornya yang sudah mulai tua.
Secepat kilat aku naik kemotor itu, duduk dibelakang ayahku dan aku peluk badannya erat-erat. Perlahan kehangatan badannya merambat ke seluruh tubuhku, terasa begitu nyaman, tentram dan aman berada di dekatnya, membuatku tak ingin melepaskannya, bahkan semakin erat tangan ini memeluknya. Sayup-sayup kudengar ayahku mengajak dan mengingatkan agar kami berdoa bersama dalam perjalanan itu…..
Subhanalladzi sakhorolana Hada,…..
wa maa kunna lahu mukriniinn……
wainna ilaa robbina lamunqolibuun….
Allohumma inna nasaluka fii safarina hada birro wattaqwa…..dst
Setiap hari, kegiatan ini terus berulang berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Begitu Indah terasa, begitu dalam tersimpan dalam ingatan. Sungguh, aku merindukan hari-hari itu……
Sampai satu kabar yang mengguncangkan hatiku, merobek-robek perasaanku. Kabar yang telah tertulis dalam kitab yang Nyata (Lauhul mahfudz), Kitab yang memuat ketetapan-Nya tentang ajal setiap manusia. Bahwa, ayahku meninggal dalam kecelakaan menuju tempat kerja. Bahwa ….
Ayahku Syahid dalam perjalanan untuk menunaikan kewajibannya ditempat kerja. Tempat dimana asal muasal seluruh biaya hidup dan kesehatan keluargaku terjamin. Tempat dimana asal biaya agar aku bisa bersekolah dan mewujudkan cita-cita ayahku. Tempat dimana ayahku bercanda dan bersuka cita dengan teman-temannya….
Inna lillahi wainna ilaihi roji’un……
Allah mengambilnya lebih cepat dari dugaanku …
Allah mengambilnya disaat aku membutuhkan bimbingannya …
Allah mengambil hambanya yang selalu mengajarkan kebaikan untuk anaknya …Sekarang …
Aku harus wujudkan cita-cita dan harapan ayahku …
Aku harus tunaikan kewajiban menuntut ilmu …
Aku harus yakin dengan harapan yang masih terbentang …
Aku harus Yakin bahwa Allah akan
memberikan jalan kemudahan …
Kemudahan untuk menggapai cita-cita ayahku …
Kemudahan dari arah yang tidak pernah aku duga
Kemudahan yang mungkin datang dari teman-teman ayahku…….
Mohon sampaikan salam hangat ini, bahwa ….
Aku rindu kepada teman-teman ayahku…..
Sebagaimana aku rindu kepada ayahku…..
* by : bibit Raharjo
Saat itu musim penghujan kami menikah, seperti sekarang di bulan Januari. Tak henti-hentinya hujan mengguyur permukaan bumi, yang kian dingin. Bunga-bunga di halaman tampak mulai mekar. Indah warnanya. Di selingi kicauan burung yang bertengger di ranting pepohonan. Menambah keindahan romansa pernikahan kami.
Kami menetap di sebuah perkampungan, dengan hamparan ladang luas yang menghijau di sebuah kabupaten di Jawa Barat. Di sanalah kami merajut tali benang kasih. Menikmati hari-hari pernikahan kami yang begitu indah. Rasanya kami tidak perlu berbulan madu ke Puncak atau Bali, toh perkampungan yang kami tinggali menawarkan kesejukan yang sama. Lebih dari cukup untuk menyemai indahnya kebahagiaan.
Waktu mengalir begitu cepat. Tak terasa 10 tahun sudah usia pernikahan kami. Kami pun telah dikaruniai anak-anak yang cantik-cantik dan sholeh, yang selalu menyejukkan hati ketika kami berada di dekatnya. Semua itu berjalan seperti biasa. Hingga akhirnya peristiwa pilu itupun terjadi.
Hari itu, tidak seperti biasanya suhu badan suami agak meninggi. Dan entah kenapa untuk kali ini aku begitu kuatir dengan kondisi suamiku. Semalaman sampai pagi suamiku muntah-muntah terus dengan disertai panas yang tinggi.
Siang hari akhirnya suami memutuskan untuk pergi ke poliklinik. Oleh Dokter suami ternyata didiagnose terkena infeksi lambung dan disarankan untuk istirahat dulu di rumah. Tiga hari di rumah kondisi suami ternyata tak juga membaik. Justru suhu badannya semakin tinggi hingga tubuhnya lemah tak berdaya. Suami akhirnya diantar ke Dokter oleh tetangga. Di Poliklinik, suami langsung dirujuk untuk segera dibawa ke RS karena kondisinya memang sangat mengkawatirkan. Di RS suami sudah tak sadarkan diri dan langsung dibawa ke ruang ICU untuk diambil tindakan. Menurut pihak Rumah Sakit Karya Medika Tambun suami di diagnose telah terkena virus, dan virus ENCHEPALITIS (radang Otak) itu ternyata sudah menyerang saraf-saraf dibagian kepala hingga suami tak sadarkan diri dan akhirnya koma. Ya Allah, berat sekali cobaan-Mu ini.
Akhirnya………
Akupun jatuh pingsan …
Kini air mata ini kembali menetes, tak kuasa menyaksikan kondisi suami yang sudah 2 minggu lebih koma dan tak juga sadarkan diri. Hanya detak jantungnya saja yang tampak bergerak di monitor. Sementara itu, hari ini tagihan rumah sakit hampir menembus angka 100 juta, dan perusahaan tempat suami mengais rezeki dari Allah, sudah angkat tangan …
Ya Allah, berat sekali cobaan-Mu ini …
“Ya Allah…aku yakin Engkau tidak mungkin memberikan cobaan ini melebihi batas kemampuan pundak hamba-Mu.Ya Allah… Kami merasa Engkau punya rencana indah untuk kami. Engkau telah berikan kami suami yang shaleh, dan telah karuniakan anak-anak yang sholeh. Kami punya teman-teman yang selalu memperhatikan dan menyayangi kami, yang terus berdatangan menaruh simpati dan memberi semangat kepada kami untuk tidak menyerah dengan keadaan. Kami mengerti, ketentuan-Mu ini tidak salah. Ya Allah… kami tidak ingin apa-apa lagi, kami hanya ingin Engkau selalu bersama kami. Kami hanya ingin Engkau berikan yang terbaik bagi kami. Terima kasih suamiku, kau telah menjadi seorang ayah yang membanggakan, yang telah membimbing kami dengan menyejukkan. Terima kasih anak-anakku, semoga kalian menjadi pelita bagi kami dan cahaya bagi keluarga kalian kelak… “
Air mata yang masih tersisa ini kembali menetes …..
“Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang yang pandai bersyukur dan pandai memberi nilai indah kepada apapun keputusan-Mu …
***
Catatan Harian HUSNA, Anak Pertama …
Hari ini hari Rabu, sudah 20 hari abiku di Rumah Sakit Karya Medika Cibitung di ruangan ICU. Hari ini aku sedih sekali karena waktu itu abi ulang tahun, tapi abi belum sadar juga. Supaya abi cepat sembuh aku akan bikin puisi indah buat abiku tercinta……
ABIKU
abiku, engkau adalah yang paling berjasa
engkau mencari nafkah untuk keluarga
sampai-sampai engkau kecapaian dan sakit parah
dan sampai masuk rumah sakit
abiku, inilah puisi yang aku berikan untukmu
untuk abiku tercinta
dari teteh Husna
Selasa, 12 Januari 2010
Hari ini aku sedih sekali, karena abiku hampir setengah bulan, abiku belum sembuh juga. Aku kasihan kepada ummi, setiap malam ummi memikirkan abi sampai menangis dan mengurus anak tiga sendiri. Aku juga sama seperti ummi, kadang-kadang kalau mikirin abi aku juga sedih….Abi cepat sembuh ya, kasihan ummi sendirian di rumah. Abi janji, abi harus sembuh. Aku bantu do’a dari rumah
Selasa, 9 Februari 2010
Hari ini aku sangat sedih sekali, karena hari ini abiku yang sangat aku cintai kini akhirnya meninggal dunia pada hari selasa 9 Februari 2010 pukul 00:30. Ya Allah, kenapa Engkau mengambilnya begitu cepat? Ya Allah, bukakanlah pintu surga-Mu selebar-lebarnya untuk abiku. Ya Allah, kabulkanlah do’a hamba-Mu ini ya Allah … Amin!
***
Villa Mutiara – Wanajaya , 2 Maret 2010
Surat yang ditulis oleh Bu Arnasih (Istri Alm./ Ibunda HUSNA)
Sepi ini amat sangat terasa. Ketika lintasan-lintasan pikiran itu datang menghampiriku.. ”Bi…lagi ngapain di sana? Ummi kangen banget sama Bi, anak-anakmu juga” kalau sudah begini air mata ini tak ada habisnya mengalir, mengeluarkan segala rasa di dada ini. Masih terbayang betapa semangatnya dirimu ketika adzan berkumandang, bersama sikecil yang selalu mengikutimu pergi ke mesjid setiap waktu shalat tiba. “lihat bi, betapa bahagianya kita, ketika tour kemarin anak-anak tertawa gembira”. Keinginanmu yang menggebu tuk belajar bekam. Ah, suamiku yang lembut hati, suka menolong orang lain, amat suka ketika apa yang engkau punya bisa menjadi manfaat bagi orang lain. Subhanallah !! Pesanmu agar kita selalu ikhlas dan sabar dalam mengerjakan sesuatu. Hatimu begitu lembut, laksana embun pagi yang menyejukan siapa saja yang mengenal. Ummi bahagia bi, bisa mendampingimu walaupun teramat singkat waktu yang ALLAH berikan kepada kita. Terkadang hati ini berharap semua ini hanyalah mimpi disiang bolong. Tapi ALLAH memanggilmu begitu cepat hingga tiba-tiba kebahagian itu hilang tuk selamanya. Terenggut paksa dari kehidupan kita. Tak butuh waktu lama sakit ENCHEPALITIS (radang Otak) datang menghampirimu dalam sekejap. Disetiap malam-malamku, kupanjatkan untuk do’a kesembuhanmu, hingga disetiap sujud dan do’a-do’aku kepada ALLAH. Siang itu HUSNA anakku, pulang sekolah tak melihat Abinya yang biasanya berbaring tidak ada ditempat tidur “abi kemana sih mi, aku mau bisikin abi ulanganku dapat seratus,” katanya dengan nada sedih. “ketika akhirnya menjawab doa-doaku selama ini. Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Tak kuasa rasanya menatap mata anak-anakku, ketika berita duka ini kusampaikan kepada mereka. Hanya tangis yang akhirnya pecah mengalir deras, kupeluk mereka. Anak-anakku sayang, yang sabar dan ikhlas ya. Masih ada ummi, yang akan selalu menjaga dan menyayangimu selalu. Abi maafin kesalahanku. Kami amat sayang kepadamu, tapi ALLAH lebih sayang lagi kepadamu. Ummi ikhlas dan yakin, abi khusnul khotimah mengiringi kepergianmu. “ya Robbi, ampunilah dosa-dosa suamiku Lapangkanlah kuburnya, terimalah segala amal sholehnya disisimu Masukanlah suamiku kedalam hamba-hamba-Mu yang shalih” Selamat jalan abiku sayang, doa kami akan selalu mengalir untukmu. Semoga ALLAH memasukanmu kedalam Jannah-NYA” Nb: Terimakasih yang tak terhingga tuk saudara-saudaraku, teman-teman semua. Semoga ALLAH membalas kebaikanmu. Selalu doakan kami sekeluarga.———————————————————————————-
JALAN MENUJU PINTU KEBAIKAN
by.: Bibit Raharjo
Sahabat HUSNA yang Budiman,
Ahad sore yang cerah (14/3), adalah penyerahan secara simbolis hasil penggalangan dana ta’awun sihi untuk keluarga almarhum Ade Sulaeman yang meninggal pada 9 Februari 2010. Kita memahami pada saat itu, almarhum Ade adalah salah satu ayah yang barangkali tidak cukup di kenal oleh public, hanya beberapa saja yang mengenal beliau. Namun Insya Allah dia adalah hamba Allah yang dikenal oleh penduduk langit lantaran keikhlasan beliau dalam beramal untuk mengajak kebaikan di tengah-tengah masyarakat. Hal itu bisa kita lihat ketika beliau disholatkan dan dimakamkan, betapa banyak sekali para sahabat dan masyarakat yang berduyun-duyun bersimpati dan menaruh empati yang sangat dalam dan menghantarkan almarhum ke peristirahatannya yang terakhir.
Kita memahami dan menyadari pada saat itu beban berat keluarga memang sangat terasa oleh kita semua, sehingga sebelum meninggal, pada 8 februari 2010 kami dan para sahabat melakukan koordinasi untuk penggalangan dana bahwa beban berat keluarga Husna harus menjadi tanggung jawab kita juga sebagai wujud kepedulian. Pada saat itu memang tidak terbayangkan dari mana kita dapat memperoleh dana? Tetapi dengan dukungan para sahabat sekalian dan petunjuk dari Allah SWT, ternyata Allah memberikan jalan-jalan kemudahan terhadap upaya-upaya pengggalangan dana yang kita lakukan.
Setelah berkoordinasi pada malam itu, selanjutnya kita mengabarkan kepada saudara-saudara kita melalui media informasi-informasi yang bisa kita manfaatkan, seperti milis-milis, blog, email dan facebook. Ternyata kabar ini telah tersiar dengan cepat dan sampai kepada orang yang tepat, yaitu kepada orang-orang yang mempunyai empati yang sangat dalam kepada keluarga almarhum. Bahkan berita ini sampai kepada saudara kita yang berada di Arab Saudi dan Inggris, bahwa saudara kita yang berada di sebuah desa kecil di Wanajaya Bekasi sedang menanggung beban berat. Berita ini ternyata dipahami dan akhirnya terbukti mereka dengan ikhlas memberikan bantuannya. Bahkan banyak di antara kita, terutama ibu-ibu yang meneteskan air mata ketika membaca catatan harian dari seorang HUSNA yang kami publis, yang menyiratkan kegundahan seorang anak yang mencintai ayah dan ibu tercintanya. Dari sinilah titik awal para sahabat memberikan bantuannya lewat 3 rekening yang telah kita buka untuk membuktikan kepedulian ini. Dan ternyata ilmu peduli ini tidak saja kita dapatkan dikajian-kajian, tetapi ilmu peduli ini ternyata telah terwujud nyata dan menembus batas, tidak terbatas pada jarak dan territorial, hingga ke Kalimantan bahkan Arab Saudi dan Inggris Raya. Dan Alhamdulillah Dana Peduli Husna yang telah terkumpul sejumlah Rp. 151.853.000,- yang selanjutnya telah diserahkan kepada ahli warisnya pada 14 Maret 2010 jam 17.00 wib. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang sempurna kepada para sahabat sekalian, kemudian kita berharap apa yang kita lakukan ini berbuah pahala yang besar, sebagaimana janji Allah SWT dalam QS. An-Nisa (4): 114;
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf (kebaikan), atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”
Mudah-mudahan yang kita lakukan ini berbuah kebaikan dan pahala yang besar di akherat kelak. Selanjutnya tentu kita tidak akan pernah berhenti dalam mewujudkan kepedulian ini dan kita akan selalu berempati dan memberi manfaat kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Kepada anak-anak almarhum, kita juga berupaya berkomunikasi dengan rumah zakat dan lembaga-lembaga amal lainnya, untuk bisa memberikan bantuannya berupa beasiswa pendidikan kepada anak-anak almarhum. Dan Alhamdulillah upaya kita tersebut sudah direspon dengan sangat baik oleh Rumah Zakat. Selanjutnya semoga apa yang kita lakukan ini sebagai amal untuk senantiasa berjalan menuju pintu-pintu kebaikan. Amin! (bibit)
17 Maret 2010.
———————————————
Beberapa Surat Simpati Setelah Membaca Catatan Harian Husna
*Dari : Data Pura (datapura@suzuki.co.id)
Bergetar hati ini ketika mendapat telephone dari akh. Abdullah Haidir, yang mengabarkan bahwa para sahabat dari Indonesia yang bermukim di Saudi Arabia telah mewujudkan cintanya kepada Husna binti Ade Sulaeman (alm.) dengan menggalang dana dan mengirimkan bantuannya sebagai wujud kepedulian.
Tak henti-hentinya saya bersyukur kepada Allah SWT atas karunia nikmat ukhuwah ini. Kabar derita sebuah keluarga kecil dan jeritan hati seorang anak yang ditinggal ayah tercinta, disebuah desa kecil di kecamatan Cibitung, ternyata telah tersiar hingga ke pelosok dunia, di seberang lautan dan beribu-ribu kilometer jaraknya. Dan kabar ini telah membuka berbagai pintu menuju kebaikan sebagai wujud ukhuwah yang menembus batas.
Senin malam (15/2) dengan beberapa teman lainnya, kami menyengaja berkunjung ke rumah ananda Husna. Sebelumnya, siangnya bu ARNASIH (isteri alm. Ade) mengirimkan SMS, bahwa besok beliau diminta hadir ke perusahaan tempat Almarhum bekerja. Tersirat jelas pada wajah Ummi HUSNA, ada perasaan galau, risau dan khawatir mengenai kemungkinan apa yang akan diterima esok di perusahaan. Mungkin saja perusahaan akan memberikan penjelasan tentang hak-hak Almarhum dan penjelasan tentang kewajiban hutang sebesar 86 juta rupiah yang harus segera dilunasi oleh pihak keluarga. Pertanyaannya adalah apakah hak almarhum cukup untuk membayar seluruh biaya RS itu kepada perusahaan?
10 tahun masa kerja dengan nominal gaji pokok yang tidak lebih dari 1,3 juta per- bulan, bisa menjadi kesimpulan saya dan teman-teman pada malam itu, bahwa bu Arnasih tidak akan membawa pulang sisa uang yang cukup untuk masa depan Husna, Addih dan Khasa. Maka kedatangan kami malam itu, salah satu tujuannya adalah ingin mengabarkan kepada Ummi Husna, bahwa jangan takut dan jangan bersedih, karena banyak sahabat Husna yang telah bersimpati mengirimkan do’a dan kepeduliannya yang tulus, yang telah rela mengurangi pengeluarannya untuk disisihkan sebagai wujud ukhuwah.
Alhamdulillah, kabar ini ternyata telah cukup menenangkan hatinya yang gelisah, dan telah mengurangi beban fikirannya yang berat. Di akhir kunjungan, saya meminjam diary Husna agar bisa disharing dengan ikhwah sekalian. Betapa catatan harian Husna menggambarkan tentang orangtua yang dicintainya dan kesedihannya yang sangat dalam berupa do’a yang berisi pengharapan agar Allah SWT memasukan ayahnya ke SYURGA.
Tahukah wahai ananda Husna?
Ananda telah memberikan inspirasi bagi kami para orang dewasa. Walau hanya beberapa kata yang ananda rangkai menjadi sebuah catatan kecil, sesungguhnya telah menjadi sebuah cerita yang sangat menoreh dan
menggetarkan hati-hati kami yang keras dan hitam karena tertutup oleh noda dosa, telah mampu memaksa kelopak ini untuk meneteskan air mata setelah sekian lama kering, dan telah mampu menggerakkan tangan ini mengambil sedikit simpanan sebagai wujud simpati dan kepedulian kami .
Terimakasih HUSNA, walau ananda masih belia, tetapi engkau telah mengajarkan kepada kami tentang arti sebuah cinta kepada abi dan ummi, kasih-sayang kepada adik-adik kecilmu di rumah, dan pengertian kepada abi dan ummi yang telah bekerja keras untuk keluarga. Semua itu telah tergambarkan dengan sangat nyata dalam cerita dan puisimu yang singkat namun penuh makna, yang berisi tentang kegundahanmu ketika melihat abi belum sembuh juga dari derita sakitnya yang lama, tentang kesedihanmu yang menyaksikan hampir tiap malam ummi selalu terjaga, meneteskan air mata dalam setiap sholatnya meminta kepada Rabb Yang Maha Kuasa untuk menyembuhkan suami tercinta tersadar dari KOMA. Dan puisimu tentang cinta dan do’amu yang lugu meng-harap kesembuhan dari ALLAH yang Maha Kuasa.
Mungkin hari ini ananda Husna merasa bahwa dunia ini mendadak menjadi sunyi, sepi dari suasana kegembiraan keluarga yang biasa dirasakan, dingin dari kehangatan seorang abi yang selalu hadir untuk menghibur di saat engkau dirundung kesedihan. Sedih karena hari ini telah hilang dari pandanganmu seorang ayah yang tidak pernah mengeluh untuk bekerja keras mencari nafkah dan penghidupan bagi keluarga tercintanya, seorang abi yang penuh cinta dan kasih sayang kepada ummi, Husna, serta adik-adik kecilmu.
Tapi ketahuilah wahai ananda HUSNA, hari ini engkau tidak sendiri. Hari ini dan hari-hari yang akan datang telah banyak sekali teman dan sahabat yang akan selalu memberikan perhatian, merasakan segala kesedihan dan kegelisahan dalam lubuk hatimu, peduli terhadap setiap masalahmu, dan tentu saja sahabat yang akan selalu hadir dan siap membantu. Mereka hadir memenuhi undanganmu, berupa sedikit kata dan puisi yang engkau tuliskan dalam sebuah diary.
Hari ini, ananda tidak perlu merasa khawatir akan masa depan yang masih terbentang, cita-cita luhur yang harus engkau dapatkan, harapan besar dari abi yang akan ananda laksanakan. Karena kami telah ber-azzam dalam hati, untuk bisa turut membantu mewujudkan keinginan dan harapmu. Insya Allah.
Dari sahabatmu yang tak kuasa menahan deraian air mata, setiap kali membaca cerita dan puisimu kepada abi tercinta. Semoga abi diterima seluruh amal shalihnya, diampuni segala dosanya, dilapangkan kuburnya, dan dikumpulkan bersama para syuhada di Surga-NYA kelak. Amin! (Data Pura)
***
* sebuah puisi mengenai isi hatinya setelah mengetahui kisah HUSNA.
* oleh : Ogy Febri [of_adlha@yahoo.com]
HUSNA KECILKU ….HAPUSLAH AIRMATAMU…,
JANGAN MENANGIS LAGI….
JANGAN BERSEDIH LAGI…
Husna kecil yang selalu menanti kepulangan Abi
Husna kecil dan adinda yang selalu berdoa untuk kepulangan abi…
Husna kecil beratnya penderitaanmu…
Husna kecil ….
Allah telah mengabulkan doamu, Allah telah melepaskan penderitaan Abi
Allah telah mengizinkan nya pulang, tetapi bukan kerumah sayang…,
Ayah pulang kesurga, ketempat yang terbaik disisi-NYA
Husna kecil….
Jangan bersedih lagi, jangan menangis lagi….
Diusiamu yang sangat muda , yang baru akan bertunas..
Ternyata Allah berkehendak lain, Allah mengabulkan doamu untuk Abi..
Ya sayang ,Abi telah terbebas dari deritanya, Abi telah pulang kini.. Abi pulang kesurga…
Meninggalkan URUSAN dan duka berat buat ummi, Husna dan adinda….
Husna ku sayang…, Allah tidak pernah meninggalkanmu
Tangan Allah yang lansung membimbingmu dan adinda…
Tangan Allah juga yang akan meringankan beban deritamu
Melalui hamba-hamba pilihan-NYA…
Yang pada hatinya Allah titipkan sifat Rahman dan Rahim-Nya
Allah memberimu ganti abi-abi berhati mulia
Ummi-ummi penuh kasih sayang berhati lembut..
Kakak-kakak penuh cinta yang mengiringi mu dengan doa….
Merekalah Husna , merekalah yang akan meringankan bebanmu
Karena Allah telah memuliakan mereka,
Menjadi hamba terpilih yang akan meringankan bebanmu dan Adinda,
Menyelesaikan Urusan yang ditinggalkan Abi tanpa keinginannya…
Allah yang mengatur semuanya dan Allah juga yang akan Menyingkirkan duka itu
Melalui Hamba-hamba pilihan-NYA…
Abi- Abi berhati mulia yang mungkin tidak kau kenal
Ummi –Ummi berhati lembut yang mungkin tidak pernah kau lihat wajah mereka
Dalam hati mereka tersimpan Cinta , kasih sayang untukmu dan adinda
Hati yang dapat merasakan dukamu
Hamba –hamba yang berkasih sayang karena Allah…
Hamba-hamba yang mungkin juga mempunyai anak seusiamu…
Hamba-hamba yang berserah diri….
Husna kecil… tidak sanggup lagi kami mendengar dukamu
Tidak sanggup lagi kami melihat airmatamu
Tidak sanggup lagi kami membaca diarimu
Kami hanya berdoa menyerahkanmu pada Pengasuhan ALLAH
Melalui hamba-hamba mulia pilihan-Nya
Kini … beban hidup terpikul dibahumu
Siapkah bahumu menupang Ummi dan adinda?
Siapkah bahumu jadi tempat bersandar mereka?
Tempat ummi melabuhkan cinta kasih dan duka,
Kerena engkaulah mutiaranya…
Tetaplah tegar sayang…, Bantulah Ummi dan adinda menjalani kehidupan ini
Dengan doa-doamu , Yang ALLAH akan kabulkan untuk mu
Husna kecil kami berdoa untuk kebahagiaanmu, Ummi dan Adinda
Husna kecil dirimu tidak sendiri…
Tunggulah sayang…. belaian Cinta kasih Tuhan untukmu dan adinda
Belaian cinta kasih dari hati orang-orang terkasih, orang-orang pilihan-Nya
Husna kecil……
Songsonglah masa depanmu…walau tanpa Abi di sisimu….
***
1 April 2010




