Belajar Dari Gola Gong

PICT0002 Beberapa hari ini banyak kejadian yang benar-benar menggugah hatiku, kelaparan yang terjadi pada seorang wanita hingga harus meregang nyawa, remaja yang mengakhiri hidupnya dengan narkoba,  sang ayah yang lebih memilih gantung diri lantaran ketiadaan makanan yang cukup bagi keluarganya, kasus gizi buruk dan anak balita terguyur kuah bakso di televisi yang membuat nafsu makanku menurun drastis.
Saat itu, aku sedang naik KRL penuh sesak menuju Stasiun Kota. Ya Allah, inikah angkutan rakyat? Naruh kaki saja susah banget. Selepas Senen, gerbong KRL agak  lowong. Lalu muncul sesosok balita laki-laki tengah tertatih menggerakkan sapu lidi, menyapu sampah yang dibuang sembarangan oleh para penumpang kereta. Dia bergerak maju dengan posisi jalan jongkok, sebentar-bentar berhenti dan menatap ke sekeliling dengan mata sayu dan memelas. Ternyata bukan aku saja yang tersedot perhatiannya pada anak kecil itu. Nyaris semua penumpang terenyuh menyaksikannya. Siapa yang tega menyaksikan anak berusia sekitar empat tahun “menyapu’ lantai gerbong kereta api demi menghidupi diri? Ketika hendak menyapu dihadapanku, tiba-tiba seorang anak perempuan seusia kelas enam SD, membentak anak balita itu, lalu mengajaknya pergi. Si balita pun akhirnya bergegas bangun dan membiarkan sampah berserak kembali, lalu segera menyusul “sang kakak”. Dengan rasa ingin tahu, akhirnya mataku pun ikut bergegas mengikutinya. Selanjutnya, si perempuan ABG itu duduk menyender di sambungan gerbong sambil asyik menghitung rupiah yang telah dikumpulkan si balita. Dia tak peduli sekeliling, apalagi pada “adiknya”. Aku pun mengelus dada. Nyeri! Se-nyeri membayangkan Pesawat TNI yang menelan prajuritnya lantaran dimakan usia. Sungguh, semakin membuat miris dan memar hati, hidup di negeri yang “katanya” makmur ini.

Tahun 2009 baru 1/2 jalan menjelang, telah disambut dengan keprihatinan dan nyeri yang begitu mendalam. Meski, harapan tetap menyalakan lilin di hati. Masih ada, pasti masih ada calon-calon pengubah wajah negeri ini, menjadi lebih baik lagi. Para pengubah yang memaknai hidupnya agar “lebih berarti”.

Gola Gong! Siapa yang tak kenal Gola Gong? Sang novelis remaja yang aktif mengelola taman bacaan Rumah Dunia (www.rumahdunia.net). Dalam bukunya, ia pernah katakan; ”Saat saya mengalami kecelakaan terjatuh dari pohon di usia 10 tahun dan harus merelakan tangan kiri diamputasi sebatas siku, saya memulai hidup baru dengan menyandang predikat “si buntung”. Akan tetapi, kedua orang tua saya telah membimbing dan membesarkan saya dengan penuh cinta dan ilmu, bukan dengan harta. Dengan kedua hal itu, saya memulai petualangan baru dengan mengenali potensi diri saya…………..” Akhirnya, dengan cinta itulah taman bacaan Rumah Dunia dibangun dengan kata-kata. “Percayalah, Allah tidak akan menciptakan beban tanpa menciptakan pundak. Oleh karena itu, kita sebagai pengemban amanah pundak itu, haruslah terus memperkuat diri. Hidup ini terasa indah jika kita mengisinya dengan cinta. Maka nikmatilah……”

Terimakasih untuk rencana indah-Mu, ya Allah. Kau kirim pengingat disaat yang tepat, bimbinglah kami, agar selalu menjaga amanah-Mu. Walau apa yang ku kerjakan ini hanya setitik di lautan-Mu. Bahwa setiap manusia yang lahir di dunia membawa takdir dan potensi yang berbeda-beda. Bahwa, standar kemuliaan seseorang di sisi Allah adalah bagaimana mengoptimalkan potensi yang diberikan itu lebih bermakna dan mempesona di jalan takwa. Sehingga masa yang masih dalam genggaman ini, menjadi masa yang kelak dikenang keindahannya dan dikenang pula hal-hal terbaik yang pernah kulakukan…….

Satu Tanggapan to this post.

  1. jadi merenung sendiri aq membaca tulisan ini.. kasihan ANAK CUCUKU..:(

    Balas

Tanggapi posting ini