Di Stasiun Manggarai
Minggu kemarin (22/02), saya hendak pergi ke rumah saya yang berada di Citayam, Bogor . Saya pergi dengan Istri , anak saya Zhaffa serta Bapak Mertua. Rencana kami untuk menuju kesana adalah dengan menggunakan KRL Kebetulan memang jarak stasiun kereta Manggarai dengan rumah kami tidak begitu jauh, bisa ditempuh kurang lebih 10 menit jalan kaki.
Sesampainya distasiun Manggarai, kami menunggu KRL yang datang, Tak berapa lama keretapun datang, namun sial bagi kami, kereta sudah penuh dari stasiun Kota . Terpaksa kami menunggu kereta berikutnya, kami berencana naik KRL Ekonomi AC yang nyaman untuk anak Saya.
Sambil menunggu kereta datang saya melihat ada sekelompok anak-anak kereta (anak-anak yang suka mengamen atau menyapu kereta) sedang bercanda sesama mereka. Baju mereka tampak kotor, mungkin memang hanya baju yang melekat itu yang mereka miliki.
Sayapun mencoba mendekati salah satu diantara mereka. Sambil menggendong anak saya, saya bertanya
“Nama kamu siapa?”, . “Sholeh Mas..”. “Ohhh…” gumamku. Lalu akupun bertanya lagi, “kerja kamu apa ?”. “Menyapu di kereta, tetapi hari ini Saya tidak kerja dulu”. “kenapa?”, tanya saya. “Dari pagi hinggan jam 11 siang gini ada razia”. “Kemarin ajah teman saya ada yang ditangkap”. “Dari pagi saya juga belum makan Mas”. Sholeh berbicara dengan saya sambil bercanda dengan anak saya dan juga dengan rokok ditangannya. Makanya, saya melepaskan Zhaffa ke Bundanya biar tidak kena asap rokok.
Memang saat ini di kereta ekonomi Jakarta – Bogor , semua pedagang, pengemis dan pengamen dilarang ada didalam gerbong kereta. Makanya sekarang banyak razia di kereta.
Lalu Sayapun bertanya kembali kepada Sholeh, “Kamu gak sekolah Leh?”. “Gak Mas, saya kabur dari rumah”. “Saya gak betah dirumah”, “Kenapa?” Tanya Saya. “Dirumah Saya gak dikasih makan sama ibu, masa anaknya sendiri gak dikasih makan Mas, ibu saya kejam”. “Udah gitu saya suka di sabetin pakai sapu lidi, nih ada bekasnya di punggung saya”. “Makanya Saya kabur, dari dirumah daripada gak makan mending saya dijalanan bisa bebas, Saya cari makan dengan menyapu di kereta, trus dapat uangnya dari penumpang yang ngasih seiklashnya”.
“Emang sekolah kamu sampai kelas berapa?”, Tanya Saya kembali. “Kelas 2 SMP, trus saya keluar sampai sekarang”.
“Kamu masih mau sekolah gak?’ tanya saya. “Gak ah, bukunya mahal, trus biaya sekolahnya gak ada udah gitu transportasinya kan pake duit, saya gak punya Mas”.
“Raport kamu ada gak?”, dia sedikit bingung aku tanya begitu. “Ada Mas, dirumah Ibu di Depok, “tapi gak tau naruhnya dimana!?”.
“Ya udah, besok kamu cek dulu di rumah, masih ada apa gak””. Kalau ada kasih tau Saya yah”. “Kamu biasa mangkal di sini kan ?, rumah saya dekat sini, jadi besok Insya Allah bisa ketemu lagi”, ungkapku.
Saat asyik mengobrol dengan Sholeh, ternyata kereta sudah datang. Dan, Istri ,anak saya, serta mertua sudah naik kedalam kereta.
Buru-buru aku bangun dari dudukku dan pamit sama Sholeh, “Leh, besok ketemu disini yah sore, jangan lupa raportnya”. “Okeh Mas Besok”, jawab Sholeh.
Sebelum kereta jalan, Sholeh memanggilku dari bawah. “Mas, kalau gak ada raportnya gimana?”. “Ya udah besok kita ngobrol lagi”, jawab aku.
Akhirnya kereta perlahan berjalan meninggalkan stasiun kereta Manggarai. Padahal aku masih ingin banyak mengobrol dengan Sholeh dan temannya.
Sebenarnya saya ingin membantu anak-anak seperti Sholeh bisa belajar dan sekolah lagi. Saya sering lihat distasiun Manggarai ini banyak sekali anak-anak seperti Sholeh yang putus sekolah dan mencari uang di kereta. Sayang sekali obrolan kami harus terputus karena memang kami harus pergi.
Mudah-mudahan Saya bisa bertemu lagi dengan Sholeh dan teman-temanya. Dan saya bisa membantu mereka sesuai kemampuan Saya dan teman-teman di Rumah Baca Zhaffa memberikan bimbingan belajar gratis.
Yudy Hartanto
Pengelola Rumah Baa Zhaffa
http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com
Posted by wedz on 7 Agustus 2009 at 8:08 pm
subhanallah
masih ada orang berhati emas seperti anda bung yudy..
smoga Allah memberikan balasan surga bagi anda
wedz