
sumber : http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/03/17200729/saat.literasi.dibenamkan.televisi
Sabtu, 3 Januari 2009 | 17:20 WIB
Oleh Palupi Panca Astuti
Pernah mendengar hari tanpa televisi? Sejak tiga tahun terakhir, penetapan hari ini telah dikampanyekan beberapa lembaga yang prihatin terhadap konten atau isi tayangan di televisi. Sejumlah lembaga yang tergabung dalam Koalisi Nasional Hari Tanpa TV mengimbau para orangtua untuk mematikan televisi di rumah selama satu hari penuh dan menggantikannya dengan melakukan kegiatan yang lebih berguna.
Imbauan tersebut nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk pemberitaan dan hiburan melalui layar televisi. Pengaruh televisi dalam keluarga Indonesia tampaknya sudah demikian kuat menyatu dengan keseharian masyarakat. Data Bank Dunia tahun 2004 menunjukkan, ada 65 persen lebih rumah tangga pemilik televisi di Indonesia. Bentuk media audio visual yang menarik dan lengkap dari si ”tabung ajaib” menjadikan ia lebih digandrungi dibandingkan dengan produk budaya lain, seperti buku.
Hiburan yang disajikan mampu menarik mayoritas penduduk menekuni tayangan televisi dalam kegiatannya sehari-hari. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2006, lebih tiga perempat (86 persen) dari seluruh penduduk usia 10 tahun ke atas di Indonesia memiliki aktivitas rutin mengikuti acara televisi dalam seminggu.
Adapun untuk aktivitas literasi angkanya lebih kecil, yaitu 68 persen dari total jumlah penduduk usia tersebut yang membaca ragam sumber bacaan selama seminggu. Ragam bacaan yang ditekuni meliputi surat kabar, majalah, buku pelajaran, buku pengetahuan di luar buku pelajaran, dan buku cerita.
Minat baca
Televisi pada dasarnya adalah sebuah produk teknologi komunikasi. Tidak ada yang ”salah” dengan media yang menawarkan ragam tayangan audio visual tersebut. Hanya saja, pemanfaatannya saat ini dirasa semakin tak seimbang dengan porsi penggunaan produk sosial budaya lain, misalnya budaya membaca. Hal ini terbukti dari persentase penduduk yang memanfaatkan waktunya untuk menonton televisi jauh lebih banyak dibandingkan membaca.
Gejala rendahnya minat terhadap buku dimulai ketika terjadi booming televisi swasta di Tanah Air pada awal 90-an. Ketika televisi swasta pertama Indonesia lahir saat itu, hampir tidak ada yang menyangka jika pada satu dekade berikutnya akan ada belasan bahkan puluhan stasiun televisi swasta lain seperti sekarang ini dengan berbagai variasi tayangan.
Pada masanya dulu hanya televisi pemerintah yang mengudara dengan jam siaran terbatas dan komposisi acara hiburan yang juga terbatas. Aktivitas anggota rumah tangga, khususnya anak-anak, tidak melulu diwarnai dengan menonton televisi, tetapi juga membaca buku atau permainan yang mengandalkan olah fisik. Saat ini, sepulang sekolah, televisi dengan ragam acara hiburan dan saluran merupakan hiburan yang paling digemari anak-anak.
Daya tarik televisi sedemikian rupa sehingga ”pertemanan” anak dengan buku merupakan sesuatu yang langka. Jarangnya interaksi dengan bahan bacaan menjadi salah satu faktor penyebab kurangnya pemahaman seseorang dalam membaca.
Dalam sebuah studi internasional yang rutin dilakukan untuk mengetahui perkembangan kemampuan membaca anak, khususnya yang duduk di bangku kelas empat (sekolah dasar) menunjukkan total skor yang dicapai anak Indonesia adalah 405 (tahun 2006).
Posisi ini berada di peringkat 36 dari 40 negara peserta, Indonesia hanya menempati posisi di atas negara-negara Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan. Studi yang bernama Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) ini dilakukan setiap lima tahun untuk mengukur tren kebijakan dan pencapaian kemampuan membaca anak dan praktik yang berkaitan dengan literasi dan pemahamannya.
Sarana membaca
Akan tetapi, perilaku seseorang yang kurang menyukai buku bukanlah satu-satunya penyebab rendahnya minat baca. Akses bahan bacaan yang terbatas, antara lain karena mahalnya harga buku, turut menyumbang kemalasan orang membaca. Dalam jajak pendapat Kompas tentang buku beberapa waktu lalu, sebagian besar (60 persen) responden menyatakan bahwa harga buku, khususnya buku bacaan baik fiksi maupun non fiksi, tergolong mahal. Sebanyak 70 persen responden juga mengaku tidak memiliki anggaran khusus untuk membeli buku setiap bulan.
Demikian juga fasilitas perpustakaan umum dirasakan belum memadai. Di beberapa negara maju, perpustakaan yang menyediakan tempat membaca yang nyaman dengan koleksi buku yang cukup lengkap merupakan fasilitas publik yang relatif mudah ditemukan. Kondisi tersebut berbeda 180 derajat dengan Indonesia yang agak cukup sulit menemukan perpustakaan yang layak, nyaman, dan kaya akan koleksi buku. Dalam sebuah penelitian jajak pendapat di 12 kota besar di Indonesia, lebih dari 50 persen responden menyatakan sulit menemukan perpustakaan di sekitar tempat tinggal mereka.
Opini masyarakat tentang sulitnya mengakses perpustakaan cukup beralasan
Posted by wisatabaca on 19 Januari 2009 at 3:11 pm
SARAN DARI Griya Baca Bahtera Ilmu Yogyakarta
Eko Wahyu
0274 320 3218, 0888 2855 988
Jl. Bantul Km. 9, Njuron, Pendowoharjo, Bantul
Saya mungkin ingin berbagi pengalaman juga dengan degan sahabat-sahabat semuanya diseluruh tanah air. semoga tips-tips ini bermanfaat:
- Sediakan buku-buku yang berbobot dan bermanfaat perpustakaan mini/keluarga sesuai dengan umur anak.
- Berikan contoh dulu kalau kita sebagai orang tua, guru, ustadz ataupun posisinya bahwa kita juga gemar membaca.
- selanjutnya biarkan anak memilih buku dengan tema atau gambar yang menarik bagi mereka, asumsunya anak tertarik dengan buku yang bergambar menarik.
- sempatkan walau sedikit waktu sebelum berangkat kerja, sebelum mandai/ makan, atau sebelum tidur untuk bercerita mengenai tema buku tersebut,
- letakkan buku-buku tersebut ditempat yang mereka sukai, tempat tidur, tempat bermain, ruang keluarga, sepeda, tas kesukaan mereka. biar berantakan tapi mereka asyik.
- nah memang harus ada perencanaan khusus baik tema maupun buget yang proporsional sesuai dengan kemampuan kita.
- ajak anak-anak, murid atau santri-santri ke berbagai pameran buku atau pameran pendidiakan sebagai sarana refresing aja. tidak harus beli.
Ok’s selamat mencoba
Yogyakartam 19 Januari 2009
Posted by wisatabaca on 3 Februari 2009 at 8:51 am
Dikutip dari masukan Rumah Baca Zhaffa
http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com
untuk tips-tips tentang pendirian rumah baca, bisa didownload di webnya 1001buku.
Tapi sedikit saya share yang selama ini saya jalani
Yang pertama adalah niat, pasti ini sudah punya yah, berikutnya adalah tindakan. nah tindakannya pasti bingung yah mo dari mana dulu. Sama kayak saya waktu mau mendirikan. Saya juga tanya2 di om Google, baca-baca blog atau web rumah baca lain, trus kontak2an, trus coba berkunjung n tanya2.
Kunjungan bisa ke beberapa tempat , jadi punya gambaran beragam.
Nah dari hasil tanya2 n kunjungan itu, baru deh kita bisa mulai mo seperti apa sih rumah baca kita, mo sistem sewa (bayar), gratis, khusus anak-anak atau umum. jadi coba monya model yang mana.
Setelah modelnya kita tentukan, kita bicara masalah tempat. Syukur ada yg luas gak sewa, atau punya halaman rumah sendiri, Untuk tempat jgn terlalu dipikirin yang luas n sangat nyaman dulu (kecuali untuk RB yg disewakan) karena saya ajah cuman dihalaman rumah itu ajah gak luas (2×3 m)….
Kalaupun gak ada tempat jgn bersedih…karena sudah niat jalanin saja, kan bisa digelar emperan trus dijadwal adanya kapan aja. Untuk bukunya bisa disimpan dirumah dulu.
Trus masalah buku, jgn kepikiran juga harus komplet n banyak dulu. Kalaupun baru ada 20 buku atau 50 buku juga udah bisa kan. Kalau nunggu komplet gak bakalan komplet, soalnya buku kan terbit terus…..
Nah yang berikutnya adalah masalah kesediaan waktu untuk ngurus rumah baca. ini pasti menyita waktu n pikiran , harus siap bener, siap capek, siap diganggu anak-anak,
Trus, masalah pengelola, siapa yg akan mengelola, apakah perlu relawan atau temen, keluarga juga bisa dilibatkan, bilang sama mereka gak ada duitnya…he..he…kecuali pasti dapat amal….(persiapan untuk ditimbang ma yang diatas)
Berikutnya adalah masalah dana….wah yang ini harus bener2 dipikiran (saya aja masih mikirin). Maksudnya udah pasti kita juga harus siap pribadi untuk rumah baca, makanya saya berencana untuk membuat kegaitan ekonomi produktif untuk dana rumah baca…kegiatan sablon n daur ulang (mungkin rumah baca yang lain udah lebih jago maslaah ini bisa di share juga)
Trus untuk meramaikan rumah baca , bisa dilakukan kegiatan2 penunjang lain . bisa amendongeng , nonton film bareng, origami atau disesuaikan dengan lingkungan ajah.
apalagi yah….kayaknya kepanjangan nih….sory
kalau ada yang mau menambahkan monggo, biar kita bisa saling berbagi. Kan tujuan kita smeua sama, memajukan dunia literasi.
semoga bermanfaat,
relawan Rumah Baca Zhaffa.
Jl. Menara Air VII NO. 43 RT. 07/011 Manggarai – Jakarta,
Telp 0813-14728814/ 021-94642632