Dampak Negatif TV

  • Sumber : http://echisofwan.blogspot.com

Anggota Komisi I DPR-RI dari F-PKS, Al Muzzammil Yusuf, menilai persoalan terbesar pada Industri pertelevisian adalah mereka terjebak pada standar rating penonton dan menomorduakan kualitas serta dampak tayangan.”Padahal sistem rating hanya mengukur jumlah pemirsa yang sedang menonton, tanpa memperdulikan suka atau tidak suka, bagus atau tidak bagus, serta logis atau tidak logis tayangan tersebut,” katanya di Jakarta, Selasa.
Muzzammil mengemukakan hal itu usai Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) antara Komisi I dengan Asosiasi TV Swasta Indonesia. Menurut dia, penilaian rating selama ini dilakukan hanya oleh Nielsen Media Research (NMR) dan tidak ada lembaga alternatif. Ia mengusulkan agar ke depan dimunculkan lembaga penilai rating berdasarkan metoda kualitatif (kualitas isi) dan penilaian dampak positifnya, sehingga tidak semata penilaian kuantitatif. Selain itu, lanjutnya, pihak TV mengajukan riset ke publik atau pemirsa, tentang pilihan tayangan yang mereka kehendaki, jam tayang, lama tayang dan lain-lain.
“Saya kira ini tidak sulit dilakukan. Ini juga sesuai dengan prinsip marketing. Dan juga saya kira kita tidak kekurangan penulis naskah cerita atau acara yang kreatif edukatif,” katanya. Dengan demikian, katanya, tayangan TV akan benar-benar sesuai dengan amanat UU dan Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) No.2/2007 tentang Pedoman Prilaku Penyiaran yang mengatur soal nilai-nilai agama, norma masyarakat, etika, dan asas kebebasan dan tangjawab. (ANTARA NEWS)

Di perumahan tempat tinggal kami, gak ada anak-anak yg saling main ke tetangga. dan kebanyakan di perumahan lain saat ini tradisinya juga sama kali ya…?! Tidak seperti masa-masa kita kecil dulu….., hm…..main petak umpet dengan teman-teman sebaya, main bola, main kelereng, layang-layang, dll,….indahnya masa kecil itu…:)

So, Anakku yg pertama (pd masa itu blm ada adiknya)…selain main, dia menghabiskan hari-hari dengan nonton TV, khususnya Teletubies (television tummy of the babies) atau televisi di perut anak bayi.
Awalnya aku gak ambil pusing…wong namanya anak-anak…ya harus ada hiburan. Tapi lama kelamaan tingkah anakku ya kayak Teletubies itu…..hihihi, aktif banget (gak rela dibilang lasak nih..). karena pooh, tinky winky dan lainnya…di film kartun itu, kalo mereka ketawa kan ampe terpingkal-pingkal n guling-guling di lantai. Malah di beberapa negara udah dilarang penayangannya, karena terdapat ketidak jelasan Gender di kartun itu. Ada yang pake tas wanita tapi suaranya laki-laki, dan ada juga lambang segitiga terbalik pada tokoh berwarna ungu “tinky winky”, yang sebagian orang berpendapat itu lambang ‘gay’…

Sejalan waktu, di usia 3 tahun aku mendaftarkannya di kelas Play Group, dan kesukaannya berubah, Dia tak lagi menggemari Teletubies. Kesukaan berpindah pada Power Rangers.
Yang ini lebih dahsyat lagi….anakku jadi nyaris hiper aktif. Bergerak tak menentu menirukan gaya Power rangers. Bahkan Beberapa kali melakukan gerakan yang nyaris membuat dirinya celaka. Dia aktif bergerak di manapun dia berada. Di sekolah gurunya juga ikut pusing….:)
Dan ketika berikutnya ada kartun-kartun yang menjadi tontonan kegemarannya, aku masih belum bisa berbuat apa-apa. Mungkin dikarenakan rasa terlalu sayang yang tak ingin menjauhkan buah hatiku dengan hal-hal yang disukainya.

Suatu ketika yang membuat Aku mulai mempertimbangkan keberadaan TV (nah kali ini anak kedua udah ada).
Suatu sore di bulan Juli tahun 2007, seperti biasa aq menemani anak nonton TV, acaranya kartun Sponge Bob. Aku memang kurang suka kartun yang satu ini. karena dialog tokohnya suka bersuara keras..jadi kedengarannya kasar gitu.
Tapi yang buat aku terkejut bukan kasarnya tadi….melainkan ada satu dialog yang memakai kata “KONDOM”. Astaghfirullah……untungnya anakku gak memperhatikan (biasanya dia suka tanya kata-kata yang tidak diketahuinya). kartun apa ini?? apa maksudnya?? bukannya kartun sore hari ini acara untuk anak?? Belum lagi kenakalan Sinchan yang suka melawan ibunya, kejahilan Tom and Jerry, Dora yang anak perempuan tapi suka jalan-jalan sendiri bahkan keluar masuk hutan segala, Mom….watcha for our diamonds’ golden age..!! :(

Kemudian aku juga down ketika anak keduaku melakukan adegan mencekik…meskipun pelan, adegan yang dia lihat di sinetron…..ya Allah ampuni aku… karena kelalaianku titipanmu ini jadi begini…..
Belum lagi anak-anak jadi konsumtif. Suka maksa beli barang-barang yang ada gambar Tokoh favoritnya; Baju Power ranger, jam tangan, sepatu batman, Ikat kepala naruto dan lainnya.

Parahnya lagi, jadinya mereka tak tertarik sama sekali dengan cerita pedang Rasulullah, Sayyidina Ali, Sayyidina Umar, Kejujuran abu Dzar Al-Ghifari, dll tokoh heroik Islam yang nyata-nyata hebatnya…..Astaghfirullah…

Akhirnya, aku dan suami berdiskusi dan mengambil keputusan untuk meniadakan TV di rumah kami. TV pun pensiun…..di ungsikan di gudang….berteman tikus kali yee…(mau dibuang sayang, mau di jual….Ada yang mau beli…??:)) -hihi, yang ini bcanda….-

Kesibukan anak-anak diganti dengan meningkatkan waktu mereka main, mandi bola, swimming, main bola di taman, menulis, menggambar, nonton kisah nabi di kompie’, main edugames, dll yang lebih manfaat. Aku bilang ke mereka…sungguh semua anggota tubuh diminta tanggung jawabnya kelak, jadi ketika kelak Allah bertanya untuk apa mata yang Allah beri ini..?? Kita hanya bisa bilang “Ya allah sesungguhnya mataku hanya untuk menonton TV, bukan untuk baca buku yang manfaat” Anak tertua yang udah ngerti sama cerita itu pun jadi takut kalo nanti matanya jawab seperti itu di hadapan Allah.

Alhamdulillah, setelah lebih kurang 7 bulan kami gak nonton TV, anak-anakku jadi anak yang manis. Mereka jadi lebih gemar membaca, rajin menulis, lebih patuh&santun. Pola tidur jadi lebih teratur. Kisah-kisah nabi jadi cerita yang menarik bagi mereka. Duit juga lebih hemat, karena yang dibeli cuma buku-buku & alat tulis..:) -sesekali mainan boleh lah nak….dan yang pasti…aku punya lebih banyak waktu untuk main dengan mereka.

Ya allah jika kelak kami di mintai pertanggung jawaban atas anak-anak kami…jadikan kami orang tua yang mampu mempertanggung jawabkannya….
dan Jika kelak anak-anak kami di pertanyakan allah atas orang tuanya….jadikan dia bangga telah dilahirkan dari rahim seorang ibu yang mampu mengajaknya menuju jalan yang Engkau Ridho atasnya…Insya allah

Ya allah ku mohon Ridho & barakahMu agar melalui tanganku dapat kubesarkan & kudidik anak-anak yang kelak menjadi anak yang sholeh……allahumma Amiin

Anak-anakku semoga kalian dapat menjadi jalan bagi Ayah Ibu menuju Surga. I love U so much…

4 Tanggapan to this post.

  1. Posted by amiree on 6 Agustus 2008 at 12:00 pm

    Saya setuju langkah meminggirkan tv untuk menumbuhkan lebih banyak kegiatan kegiatan yang produktif terutama di lingkungan rumah. Tapi bukan membuang tv tersebut jauh-jauh dan tidak memberikan harapan akan kembalinya tv tersebut diantara kita. Alasan yg paling tepat adalah belum siapnya kita sebagai orang tua untuk tegas memberi porsi waktu nonton tv untuk anak anak, serta memilihkan acara-acara yg memang dipertuntukkan buat anak-anak, juga adanya kemamuan orang tua untuk melakukan mendampingan ketika anak-anak harus menikmati tontonan tv yang berlebel BO, atau PG (Parental guidence), serta tegas melarang menonton acara yang bukan diperuntukan untuk anak2.

    Salah satu metode pendidikan anak yang ditengarai efektif adalah salah satunya digunakannya metode penyampaian materi dengan bantuan audio visual. Di situ muncul kebutuhan TV, komputer, game konsol, yg digunakan justru untuk membuat proses pembelajaran lebih efektif dan semakin menyenangkan. Jadi akan menjadi rancu membuat doktrin anak serta diri kita sendiri ttg tv sebagai sebuah racun.

    Selain tv, penggunaan komputer yang sudah tersambung dengan koneksi Internet, malah justru jauh lebih berbahaya dibandingkan hanya sebuah TV. Karena Jika komputer tersebut sudah tersambung dengan Internet, materi yang bisa diakses akan menjadi tidak terbatas, termasuk hal-hal yg seharusnya hanya boleh diakses oleh orang dewasa, juga banyak hal lain yg bahkan sangat berbahaya buat anak-anak. Tapi jika sikap kita dengan menolak itu mentah2, maka kita akan rugi. Karena Jika kita bisa menggunakna perkembangan teknologi dengan bisa memilah2 sisi baik dan buruk, dan selanjutnya sisi buruk kita tinggalkan dan sisi baiknya kita manfaatkan, kita tidak hanya akan menjadi orang yg bijak tetapi juga akan menjadi orang yang cerdas. Semoga!

    Balas

  2. tanggung jawab tv terhadap generasi terasa ‘agak kurang’. selanjutnya fakta yang terjadi adalah tontonan sudah jadi tuntunan. sedangkan tuntunan hanya menjadi tontonan. miris memang!

    Balas

  3. Agar anak tidak keranjingan tv adalah dengan mengajarkannya membaca sedini mungkin dan menegakkan disiplin. Saya mengajar anak saya membaca sejak ia berumur 2 tahun. Tentu tidak mudah, dan mulanya ia kurang menyukainya. Tapi umur 4 tahun ia sudah bisa membaca buku dan sama sekali tidak tertarik menonton tv sampai umur 6 tahun. Di usia ini ia mengatakan sangat berterima kasih bahwa saya telah mengajarnya membaca di usia dini, meskipun saat itu ia membencinya, karena kini membaca memberinya hal yang sangat menyenangkan. Memang, ia anak tunggal dan tidak ada banyak anak sebaya di sekitar rumah.
    Kini, menjelang 7 tahun ia sudah tertarik pada tv, tapi ia bisa menerima bahwa hanya boleh menonton kartun di spacetoon atau film mengenai ilmu pengetahuan alam, dan jika ada buku, ia lebih suka membaca daripada menonton tv.
    Kunci dari semua ini ialah dengan menegakkan disiplin: anda harus tegas melarang anak menonton sinetron, iklan, mematikan tv di saat jam belajar, dan membatasi waktu serta apa yang boleh ditonton, serta menerangkan mengapa ia harus melakukan hal tersebut: tontonan tsb untuk orang dewasa, akan membuatnya bodoh, dan membuang-buang waktunya. Biarkan anak menangis jika di saat pertama ia tak dapat menerimanya.
    Peran orangtua sangat penting: beri buku yang menarik, beri contoh dengan mengisi rumah dengan buku-buku, orang tua sendiri harus membaca buku setiap hari, dan memberikan pengetahuan alam yang membuat anak berpikir kritis, bertanya mengenai arti hidup ini dan menerangkannya secara ilmiah. Setiap hari anak saya akan menanyakan satu hal baru yang mengganggu rasa ingin tahunya dan meminta saya untuk memberi satu pengetahuan baru untuk dicatat. Orang tua harus memiliki buku-buku ilmu alam dasar agar dapat menjawab pertanyaan ini dan menunjukkan kepada anak dimana ia dapat memperoleh pengetahuan yang menarik itu dan bagaimana cara berpikir kritis. Selain itu, sediakan banyak buku komik dan buku cerita yang lucu, penuh petualangan, serta berkarakter, yang dapat membentuk wataknya. Dengan cara itu, sejak kecil anak akan mengetahui bahwa membaca buku, ilmu pengetahuan, dan berpikir jauh lebih menarik daripada tv.

    Balas

  4. thanks masukannya, semoga menjadi inspirasi bagi para keluarga muda yang lain. Ditunggu komentar berikutnya……..

    Balas

Tanggapi posting ini