Taman Bacaan Mutiara Ilmu, Kegigihan Imah Meningkatkan Minat Baca

 
  • Oleh : Rahmi

 

 

Di arena World Book Day (WBD) 2008 lalu, salah satu stand yang memeriahkan acara adalah Taman Baca Mutiara Ilmu. Di stand mungil yang memamerkan berbagai aktivitas membaca anak-anak, Soimah – sang pendiri, juga meresmikan Pendidikan Usia Dini (PAUD) di taman bacaan yang dikelolanya.

Wanita lulusan Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (UGM), yang akrab di panggil Imah ini, mengembangkan taman bacaan bagi anak-anak di lingkungan rumahnya di Desa Bojongkulur, Gunung Putri, Bogor, secara mandiri.

Tekadnya untuk membuka sebuah taman bacaan, terbetik ketika Imah dan ibunya pindah dari Surabaya ke Bogor, setelah kematian ayahnya. Imah juga mengaku, kepindahan mereka saat itu juga akibat tengah mengalami masalah yang cukup pelik.

Perubahan lingkungan dari menengah ke atas, ke perumahan untuk menengah ke bawah, membuka mata Imah akan kehausan bahan bacaan anak-anak di lingkungan rumahnya. Sehingga pada Oktober 2004, didirikanlah Taman Bacaan Mutiara Ilmu.

“Saya penduduk baru di Bojongkulur kala itu, baru tiga bulan menetap di sana. Tapi demi melihat anak-anak yang membutuhkan bacaan dan pergaulan mereka yang nampaknya kurang terarah, hati saya tergerak untuk membuat taman bacaan,” kata perempuan kelahiran 2 Desember ini.

Berawal dari koleksi pribadi

Sejak kecil, Imah sudah hobi membaca. Kegemarannya itu juga di dukung oleh almarhum ayahnya. Tak heran bila ia punya cukup banyak buku, kira-kira ada sekitar 504 buku yang dijadikan koleksi awal taman bacaannya.

“Tapi koleksi buku saya jumlahnya terbatas, jadi saya tidak perbolehkan anak-anak membawa pulang buku,” ujar penggemar Pramudya Ananta Toer yang merasa beruntung karena ayahnya mendukung hobinya membaca.

“Meski hidup pahit di Surabaya, apalagi waktu ayah saya sakit. Tapi rasanya saya masih beruntung, karena mendapat bahan bacaan yang lumayan bermutu,” kenang pengidola Rasulullah SAW ini.

Taman bacaan yang ia dirikan, mempergunakan teras rumahnya yang berukuran 2,5 x 3,5 meter. Akibatnya, rumah Imah pun kerap berisik karena ramai dikunjungi anak-anak. “Untungnya ibu saya bisa mengerti kondisi ini,” katanya.

Pada Mei 2006, Imah berkesempatan memperkenalkan Mutiara Ilmu ke sebuah forum dialog yang diselenggarakan Komunitas 1001 buku. Dari sanalah ia mulai mendapatkan banyak sumbangan, malah seorang pejabat negara juga tergerak ikut menyumbangkan buku ke taman bacaannya.

“Mulai dari sana Mutiara Ilmu menerima sumbangan yang berupa buku-buku,” kata Imah yang sempat menggunakan uang tabungannya demi menambah koleksi buku dan biaya pemeliharaan taman bacaannya yang kini telah memiliki 3000 lebih koleksi buku.

Tak lepas dari cibiran

Meski kini Mutiara Ilmu sudah berusia hampir empat tahun, namun bukan berarti selama ini Imah tak mengalami kendala. Selain masalah biaya, ia pun harus mampu menahan diri dari cibiran masyarakat sekitar yang masih memandang sebelah mata. Apalagi ia termasuk orang baru di sana.

“Kadang suka ada omongan yang enggak enakin. Kalau saya habis pulang event dan capek, kadang-kadang suka sakit hati juga mendengarnya,” tukasnya. Tapi begitu melihat respon anak-anak yang luar biasa, semua itu mengobati hatinya.

Bagi Imah, hidupnya terasa indah karena merasa bermanfaat bagi orang lain. Sehingga semua kendala dalam mengelola Mutiara Ilmu, tak lagi berarti baginya. Termasuk waktunya yang tersita untuk kegiatan-kegiatan di taman bacaannya itu.

Kesibukannya dan mulai mengalirnya bantuan bagi Mutiara Ilmu juga kerap membuat orang lain berpikir, perempuan yang masih lajang ini sudah kaya raya.

“Banyak yang menyangka saya sudah kaya dan berpenghasilan lebih dari 3 juta sebulan, padahal penghasilan saya masih di bawah UMR, lho,” tegasnya, seraya tersenyum.

Mengajar demi mencukupi kebutuhan hidup

Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Imah juga mengajar sebagai guru ekstrakulikuler yang mengajarkan Jurnalistik di sebuah SD Islam. Selain itu, ia juga kerap menjadi pembawa cara (MC) dan mengisi berbagai kajian di seminar-seminar.

“Sekarang kalau diundang MC atau bicara di forum, terpaksa harus memakai tarif. Uangnya bukan untuk kepentingan saya, tapi untuk taman baca,” imbuhnya. Karena meski keanggotaan taman bacaannya bersifat resmi, namun ia tak bisa berharap banyak dari iuran anggotanya.

Walau iuran anggota hanya Rp. 2000 per bulan, tapi rata-rata anggotanya kerap lupa dan mengatakan tak punya uang untuk melunasinya. Apalagi sifat iurannya tidak memaksa, alias suka rela.

“Kadang-kadang lucu juga, karena mereka suka datang ke taman baca sambil bawa makanan banyak. Tapi kalau diingatkan untuk membayar iuran, mereka menjawab tak punya uang,” ungkapnya, tersenyum.

Imah sendiri telah mahfum dengan kondisi ini, ia tahu kalau kesadaran anak-anak terhadap membaca dan buku masih jauh dari yang diharapkan. Begitu pula dengan para orangtua yang masih kurang mendukung minat baca anak-anaknya.

Selain kegiatan membaca, Mutiara Ilmu juga mulai mengikutsertakan anak-anak didiknya untuk ikut berbagai lomba. Baik yang diselenggarakan pihak lain, maupun lomba yang mereka selenggarakan sendiri.

“Biasanya mereka mau membayar untuk lomba, untuk mendanai  kegiatan,” kata Imah yang belakangan juga menjadi konsultan masalah remaja. Maklum saja, para anggota Mutiara Ilmu juga banyak yang telah beranjak remaja. “Tak pelak, saya harus membaca buku-buku psikologi juga,” pungkasnya.

Respond to this post