Taman Bacaan Anak yang Terus Mekar

Siang itu suasana Masjid Nurul Islam di kelurahan Jelambar, kecamatan Grogol, Jakarta Barat tak seperti biasa. Belasan pendukung Hallo Selebriti dan anggota Parfi DKI Jakarta berkumpul di halaman masjid. Mereka bukan mengikuti ceramah agama atau sedang syuting sinetron, melainkan menghadiri peresmian Taman Bacaan Anak Melati dengan sohibul hajat Yayasan Nurul Islam.

Memang tidak biasanya masjid ini dibanjiri kawula muda yang wajahnya kerap muncul di layar kaca. “Mereka mendukung kehadiran taman bacaan di sini,” kata Yessy Gusman. Aktris yang populer lewat film Gita Cinta dari SMA pada akhir 1970-an ini bak pemeran utama dalam sebuah pentas. Ia menjadi magnet yang menyedot rekannya untuk terlibat dalam kegiatan sosial.

Taman Bacaan Anak Melati sejatinya hasil kerja bareng antara dua pihak. Yayasan Nurul Islam menyediakan tempat untuk aktivitas taman bacaan anak. Sedangkan Yayasan Bunda Yessy, sebagai payung Taman Bacaan Anak, menjadi operator kegiatan. “Jadi bukan murni seperti 13 taman yang lain [yang sepenuhnya dikelola oleh Yayasan Bunda Yessy, Red.],” kata ibu dua orang anak ini.

Yessy mengelola belasan taman bacaan itu dengan koleksi yang dirotasi. Setiap taman mendapat jatah sekitar 650 judul buku untuk masa empat bulan. Jumlah ini dianggap idel untuk setiap taman, karena masing-masing taman biasanya mampu menampung 50-100 anak. Buku-buku inilah, yang seluruhnya berjumlah 8.000 judul, akan dirotasi dari satu taman ke taman bacaan yang lain.

Model rotasi ini dipakai agar anak-anak tidak bosan dengan judul-judul yang ada. Sistem rotasi ini juga cukup efektif untuk menyiasati harga buku yang mahal.

Agar buku-buku itu awet, Yessy selalu menekankan bahwa buku itu milik bersama. “Agar mereka punya rasa memiliki,” kata Yessy yang antara lain sudah membuka Taman Bacaan Namira di Rawajati, Javan di Beji Depok, Dewi di Citayam Bogor, dan Jerry di Cakung.

Setiap taman bacaan memiliki aturan sama seperti buku tidak boleh di bawa ke rumah. Anak-anak juga tidak boleh berebut dan tidak membawa tas ke dalam ruang baca. “Kita juga melarang mereka makan dan minum sambil membaca,” katanya.

Kini Taman Bacaan Anak Melati akan dijadikan ujung tombak pengembangan taman selanjutnya. Ibarat lokomotif, taman ini akan menarik gerbong lain. Karena itu koleksi Melati akan berbeda dengan 13 taman sebelumnya. Namun, untuk sementara taman Melati akan mendapatkan beberapa koleksi sebelumnya. “Terutama buku-buku dengan judul ganda,” kata nominator aktris terbaik dalam Festival Film Indonesia 1981 lewat film Usia 18 ini.

Seperti 13 taman bacaan sebelumnya, Melati akan berfungsi layaknya pusat dari taman yang akan berdirinya selanjutnya. Buku yang sudah dibaca anak-anak Melati akan dirotasi ke taman lain. Dalam waktu dekat taman ke-15 menyusul berdiri pula.

Perkembangan taman bacaan yang sepesat ini tak pernah terbayang oleh Yessy. Saat mendirikan taman pertama empat tahun silam, ia hanya ingin anak-anak di sekitar rumahnya beroleh bacaan yang layak. Kondisi ini berbeda jauh dengan dua anaknya yang beroleh pendidikan di Sekolah Global Jaya, Jakarta. Hampir semua kebutuhan bacaan dua anaknya terpenuhi. Yessy ingin orang lain beroleh bahan bacaan serupa.

Saat taman bacaan berdiri, Yessy mampu menyuguhkan beberapa ratus buku koleksinya. Sebagian dibantu teman dekat dan buku anak-anaknya. Taman bacaan pertama yang ia beri nama Namira, terletak di Kalibata, Jakarta Selatan itu ternyata bukan sekadar tempat anak berkumpul. “Saya merasakan suasana keakraban yang ikhlas di sana,” kata mantan mahasiswi fakultas hukum Universitas Pancasila Jakarta ini.

Taman pertama itu begitu membekas dalam ingatan Yessy, bahkan meninggalkan jejak sejarah yang sulit dihapus. Saat itu Yessy menyewa sebuah lokasi untuk dikontrak sebagai taman bacaan. Rumah biasa itu ia sulap menjadi tempat yang nyaman. Lantai dilapis karpet, interior dipermak dengan warna cerah, seperangkat tape recorder untuk mendengarkan lagu anak-anak disediakan. Buku yang tersedia pun amat beragam meski dalam jumlah terbatas.

Lokasi bersejarah itu kini tinggal kenangan. “Tidak aman dari banjir,” kata Yessy. Beberapa kali air meluap dan mengaliri lantai tempat anak-anak membaca. Tak sedikit buku yang jadi korban air tak diundang itu. Akhirnya, taman bacaan pertama itu harus ditinggalkan untuk mencari tempat baru.

Ibarat magnet yang terus menarik perhatian, nama taman bacaan binaan Yessy kian dikenal. Apalagi aktivitas yang dilakukan bukan sekadar membaca buku. Kegiatan yang tak jauh dari seni mulai dikenalkan pada anak asuhnya. Bahkan sebuah sanggar di Duren Tiga, Jakarta Selatan, kerap menjadi tempat anak-anak berlatih.

Kehadiran sanggar ini pun tak pernah terbetik dalam benak Yessy ketika pertama kali membangun taman bacaan. Namun, tingkah laku anak-anak saat di sanggar menarik perhatian Yessy dan beberapa relawan yang mendampingi mereka. “Ternyata mereka memang berbakat dan punya kemampuan bermain di atas panggung,” katanya.

Potensi terpendam ini tak dibiarkan berlalu. Anak-anak usia 4 sampai 15 dilatih bersama dalam suasana keakraban. Yessy tak ragu untuk turun gunung menularkan ilmunya. Paling tidak, bagaimana cara bertutur dan berekspresi bukan soal sulit buat anak-anak sanggar taman bacaan anak ini.

Berlatih drama dan membaca puisi plus menyanyi ternyata berbuah manis. Anak-anak sanggar beberapa kali naik panggung di Gedung Kesenian Jakarta pada tahun lalu. Saat itu mereka menampilkan drama tari dan nyanyi “Taman Bacaan Kita”. Di waktu lain mereka mengunjungi penjara anak-anak Tengerang untuk memberi hiburan dan belum lama berselang anak asuh Yessy Gusman ini sempat naik pentas di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Kini setelah 14 taman bacaan berdiri, Yessy tak ingin berpuas diri. Beberapa orang di luar Jakarta ingin mendapat berkah taman bacaan miliknya. “Kalau di luar Jakarta hanya kemitraan,” katanya. Yessy menyebut ada sekitar 10 taman bacaan di Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Semarang yang menjalin kemitraan dengan pihaknya.

3 Tanggapan to this post.

  1. salam

    saya ingin joint partner dengan taman bacaan yang anda miliki, sehubungan saya mempunyai bisnis komunitas education mulai dari TK sampai SMA mungkin saya bisa dibantu lokasi saya di bandung

    Balas

  2. Posted by Ali Syamsudin on 2 Juni 2008 at 2:13 pm

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Bertepatan dengan Hari Anak Indonesia 2007 yang lalu, berdirilah “ BERANDA BUKU ABACA” yang bertempat di Jln. Suromulang Dalam II / 5 Perum Citra Surodinawan Estate Kota Mojokerto. Dengan buku yang masih sedikit dan ala kadarnya, BERANDA BUKU ABACA mencoba memberikan alternatif hiburan edukatif bagi anak-anak disekitarnya. Ternyata mereka menyambut dengan antusias. Ibu-ibu juga ikut senang dengan adanya BERANDA BUKU ABACA tersebut. Alhamdulillah pada Lomba Perpustakaan se-Kota Mojokerto, BERANDA BUKU ABACA meraih juara III kategori perpustakaan masyarakat.
    Namun semangat untuk membaca itu terkendala sarana dan prasarana yang terbatas. Koleksi buku yang sedikit (sebagian besar buku bekas dan pinjaman dari donatur yang harus dikembalikan dalam jangka waktu tertentu) sangat menghambat kebebasan anak-anak dalam memilih bahan bacaan mereka.
    Terkait hal tersebut di atas, kami BERANDA BUKU ABACA bermaksud menjalin kemitraan dengan Yayasan Bunda Yessy. Harapan kami BERANDA BUKU ABACA mempunyai koleksi buku, alat peraga pendidikan dan sarana lain yang memadai sehingga semangat belajar anak khususnya dan masyarakat umumnya lebih berkembang lagi.
    Atas perhatiannya kami ucapkan Jazakallah Khairon Katsiro

    Balas

  3. Posted by evi apriayani on 30 Desember 2008 at 6:48 pm

    saya ingin sekali mendirikaan taman bacaan/perpustakaan di tempat tinggal saya di cikalongwetan kabupaten bandung barat, namun saya tidak mempunnyai koleksi bukunya. saya sangat antusias sekali untuk mendirikan taman bacaan anak, apalagi setelah saya mengikuti training kepustakaan kemaren di lembang.kepada siapa saja yang mau dan sudi membantu saya untuk mewujudan keinginan saya ini, silahkan hubungi saya di no telp :085220050713/081572132626.terima kasih.

    Balas

Respond to this post