Dalam diskusi itu ditampilkan tiga orang muda yang terjun langsung membina taman bacaan di kampung. Mereka adalah Lutfi Kurnia dari Taman Bacaan Tegal Gundil, Bogor; Savitry Indrawardhany dari Taman Bacaan Pelangi, Pancoran, Jakarta; dan Trini Haryanti dari Taman Bacaan Cinderalas, Rembang, Jawa Tengah.
“Tidak mudah menarik orang atau anak-anak untuk membaca. Mereka lebih senang menonton televisi atau melakukan kegiatan yang sudah biasa mereka lakukan. Saya harus mencari akal agar mereka mau membuka buku. Oleh karena orang-orang di sekitar Pancoran lebih senang menonton film, akhirnya saya masuk lewat film,” cerita Iin, panggilan akrab Savitry tentang awal pendirian Taman Bacaan Pelangi sekitar dua tahun yang lalu.
Sementara Lutfi mengajak pemuda-pemuda kampung Tegal Gundil untuk membuat koran kampung. Isinya tentang apa yang terjadi di kampung Tegal Gundil. “Tadinya pekerjaan mereka hanya nongkrong, mabuk, dan menggoda perempuan yang lewat. Mereka terusik ketika di koran kampung itu ditulis tentang mereka. Setelah mereka diajak untuk membuat koran kampung itu, mereka jadi tertarik karena ada kegiatan. Lama-kelamaan mereka minta dibuatkan semacam markas yang ada bukunya. Tentunya buku-buku pertama yang masuk adalah buku-buku yang menarik buat mereka,” cerita Lutfi.
Namun setelah mereka membuat taman bacaan, baik Iin dan Lutfi melihat buku-buku itu tidaklah cukup untuk meningkatkan pendidikan bagi warga di sekitar mereka.
“Buku itu hanya benda mati. Tidak cukup hanya mengandalkan buku. Harus ada praktik atau turun ke alam agar semua pengetahuan yang didapat dari buku bisa tertanam benar di kepala pembacanya,” tegas Lutfi. Dia mencontohkan, ketika anak-anak di Tegal Gundil membaca tentang sungai, mereka tidak mengerti apa itu pencemaran sungai. Baru setelah anak-anak itu dibawa ke sungai dan ada tetua dari Tegal Gundil yang bercerita tentang keadaan sungai tersebut 20 tahun yang lalu, barulah mereka mengerti apa itu pencemaran.
“Dulu sungai itu mempunyai kedalaman lima meter, sekarang tinggal dua meter. Kenapa bisa begitu? Oh ternyata sekarang di dasar sungai banyak sampah yang berasal dari mana saja, termasuk sampah rumah tangga. Akhirnya anak-anak Tegal Gundil tidak saja belajar tentang sungai, mereka juga belajar tentang pencemaran dan kebersihan lingkungan,”
cerita Lutfi.
Sementara Iin yang tinggal di daerah masyarakat yang gemar menonton, mengajak anak- anak melakukan salah satu adegan yang ada dalam film India, Kuch Kuch Hota Hai. Dia mengajak anak-anak tiduran di rerumputan sambil melihat awan. Dia meminta anak-anak berfantasi tentang bentuk-bentuk awan. Setelah itu dia menanyakan dari mana asalnya awan. “Ketika anak-anak juga penasaran dari mana asalnya awan, barulah saya buka buku tentang terjadinya awan. Di sana mereka mulai tertarik pada buku,” kata Iin.
KETIGA pembicara tersebut mengatakan, untuk menciptakan taman bacaan yang hidup dan mempunyai banyak anggota, harus ada komitmen serta niat yang kuat dari pemilik untuk terlibat dalam taman bacaan itu. “Jika memang ada niat memberikan sesuatu untuk daerah, luangkan waktu. Tidak bisa hanya mengandalkan petugas. Jika taman bacaan itu milik warga setempat, libatkan warga agar ada rasa kepemilikan di antara warga,” kata Trini.
Dia menambahkan, untuk mengenalkan taman bacaan itu, jangan ragu melibatkan kepengurusan RT/RW setempat, melalui arisan warga, atau pengajian, dan kegiatan warga lainnya. Kemudian, carilah kegiatan yang disenangi warga untuk menarik minat mereka. Buatlah jadwal acara yang reguler agar mereka tahu ada apa di taman bacaan itu. Misalnya yang dilakukan Iin, setiap minggu pertama dia memutar film, minggu kedua membuat sesuatu berdasarkan kreativitas, minggu ketiga membaca buku dan cerita, serta minggu keempat melakukan kunjungan ke luar.
“Jika memang tidak mampu, kita tidak perlu membuka taman bacaan itu setiap hari. Yang penting ada jadwal tetap, walaupun itu hanya seminggu sekali,” tegas Iin.
Sama seperti perpustakaan lain, taman bacaan pun akan menghadapi persoalan buku hilang. Untuk mengurangi jumlah buku hilang, buatlah keanggotaan agar mudah melacak keberadaan buku. Peminjaman buku bisa digratiskan, namun jika terlambat kenakan denda yang cukup besar agar anggota disiplin mengembalikan buku.
Untuk membuat taman bacaan, tidak perlu khawatir dengan koleksi buku terbatas. “Banyak organisasi yang bisa membantu untuk menyediakan atau meminjamkan buku. Walaupun taman bacaan itu hanya memiliki 25 buku, tetapi kalau taman bacaan itu sudah berjalan, pasti ada yang membantu, ” kata Dimas dari Komunitas 1001buku.
nulisnya buru-buru ya
lum diedit tuh, jadi kurang rapi
ok thanks…….
wkt itu di luar rmh lagi banyak petir, jadi pc hrs cepet dimatiin n tulisan jadi belum sempet diedit dech ……
aku sama pemuda2 di kampung mau membentuk taman bacaan, tapi kita juga mengajar orang-orang tua yang buta aksara, tapi kita juga mau bikinles gratis, gimana menurut anda?
supaya taman bacaan lebih optimal keberadaannnya, strategi adalah wajib. entah itu strategi publikasi atau aktivitas. Mas Edi Dimyati misalnya, salah satu pendiri taman bacaan Kuartet Cibubur, Jakarta Timur; http://www.rumahbaca-kuartet.blogspot.com, yg menjadikan taman bacaannya tidak sekadar menjadi tempat membaca. Sekaligus jg setiap akhir pekan diselenggarakan kegiatan yang bersifat edukatif, seperti permainan, menggambar, menonton film edukatif, dan berkunjung ke museum. kami di wisatabaca juga melakukan aktivitas serupa, seperti menyelenggarakan pelatihan menjahit gratis dsb. Aktivitas itu adalah salah satu strategi untuk menumbuhkan minat baca. Jika niat sdh muncul dan relawan sdh siap berjuang, kini tinggal publikasi yang maksimal. Ok teman, kalian adalah pahlawan literasi untuk perbaikan bangsa ini……good luck…..n terus semangat!
bagus juga ide taman bacaan nya. bisa dikirimkan alur dan apa saja yang harus disiapkan untuk mendirikan taman bacaan? kita harus ijin ke siapa saja? tolong kirimkan ke email saja ya… terimakasih…
Saya ingin sekali mdndirikan taman bacaan, bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan buku buku yang dibutuhkan
biasanya kita memulainya dulu … selamat berjuang
Saya ingin memakai bahan ini untuk publikasi e-Buku (http://sabda.org/publikasi/e-buku/arsip/) dengan mencantumkan sumber dari situs Anda. Apakah saya diperbolehkan? Terima kasih.
boleh banget …
Assalamu’alaikum….Pak Bibit
Mohon bantuan informasi nya pak, bagaimana dan kemana kami bisa minta bantuan buku2 bacaan untuk TK Al-qur’an yang kami rintis, TK tersebut masih sangat kekurangan fasilitas untuk taman bacaan, dimana murid2 TK tersebut adalah dari keluarga kurang mampu masyarakat sekitar TK, pengajar pun lulusan SMU dan SMP tetapi kami mempunyai murid cukup banyak sekitar 170 murid yang dibagi menjadi dua jadwal pagi dan siang, dikarenakan juga tempat yang kurang memadai, kami hanya bisa menempatkan murid2 di ruang tamu rumah sederhana yang kami sulap menjadi kelas.
Adapun lokasi TK tersebut sbb:
Nama TK : TK Nurul Huda
Alamat : Kp/Ds Sukamanah RT 01 RW 04 kec paseh kab Bandung 40383
Pak Bibit,..sekali lagi kami mohon bantuannya bagaimana dan kemana kami bisa minta bantuan buku bacaan untuk meningkatkan minat membaca murid2 TK , yang mungkin bisa kami kembangkan untuk minat baca para orangtua murid tersebut.
Hormat,
Pengurus TK Nurul Huda
085716023311