- Alfi Syahraini, Siswa SMA 1 Serang Banten dan kelas menulis angkatan 5 Rumah Dunia ( Juara I menulis artikel Perpustakaan )
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Membaca. Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata itu? Sebagian ada yang berfikir membaca adalah kegiatan yang membosankan. Ada juga yang mengatakan bahwa membaca hanya menyita waktu, tenaga dan pikiran. Bahkan ada yang berasumsi bahwa membaca bukanlah kegiatan yang bermanfaat karena tidak menghasilkan materi.
Padahal, kalau kita mau berpikir kritis, kita akan menemukan begitu banyak manfaat dari kegiatan membaca. Dengan membaca suatu bacaan, seseorang dapat menerima informasi, memperdalam pengetahuan, dan meningkatkan kecerdasan. Pemahaman terhadap kehidupan pun akan semakin tajam karena membaca dapat membuka cakrawala untuk berpikir kritis dan sistematis. Hanya dengan melihat dan memahami isi yang tertulis di dalam buku pengetahuan maupun pelajaran, membaca bisa menjadi kegiatan sederhana yang membutuhkan modal sedikit, tapi menuai begitu banyak keuntungan.
Buku sebagai media tranformasi dan penyebarluasan ilmu dapat menembus batas-batas geografis suatu negara, sehingga ilmu pengetahuan dapat dikomunikasikan dan digunakan dengan cepat di berbagai belahan dunia. Semakin banyak membaca buku, semakin bertambah wawasan kita terhadap permasalahan di dunia. Karena itulah buku disebut sebagai jendela dunia.
Era globalisasi yang menciptakan iklim persaingan menuntut kita untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Karena itulah reading society dan learning society diperlukan untuk menciptakan persaingan yang sehat, sekaligus membentuk komunitas masyarakat yang gemar membaca dan belajar. Melalui membaca dan belajar, masyarakat dapat menyerap ilmu pengetahuan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang dicita-citakan dapat terwujud.
B. Minat Baca Indikator Kualitas Bangsa
Salah satu indikator dalam menentukan kualitas pendidikan suatu negara adalah tinggi-rendahnya minat baca. Ukuran tersebut menentukan kemajuan di bidang pendidikan karena dapat dijadikan tolok ukur dalam menentukan tinggi-rendahnya kemampuan membaca. Dalam artian, sejauh mana seseorang dapat menangkap informasi yang tertera dalam bacaan, maupun secara kritis menyikapi berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsanya.
Rendahnya kebiasaan dan kemampuan membaca berpotensi menurunkan angka melek huruf. Hal tersebut mengakibatkan rendahnya minat baca di Indonesia, yang secara langsung menentukan kualitas bangsa. Publikasi UNDP (United Nations Development Program), Human Development Report 2003 menyebutkan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia berada di peringkat 112 dari 174 negara. Berada tiga tingkat di bawah Vietnam yang menempati urutan ke-109. Sangat ironis mengingat negara kita yang telah lebih dari setengah abad mengenyam kemerdekaan, berada di bawah negara yang lebih dari 20 tahun yang lalu menikmati kemerdekaannya usai perang saudara. Seburuk itukah kualitas SDM bangsa kita?
Apabila pemerintah tidak menanggapi masalah ini secara serius, dapat dipastikan negara kita akan tetap menduduki peringkat kedua terbawah di antara negara-negara di Asia dalam hal pendidikan. Konsekuensinya, negara kita akan mengalami “infertilisasi” masyarakat terdidik (educated society), dalam arti tidak mampu mencetak generasi-generasi unggul akibat peningkatan minat baca yang tertatih-tatih.
Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dibutuhkan kerjasama antara pemerintah dan elemen masyarakat. Kalangan pelajar merupakan salah satu elemen masyarakat yang memiliki peran yang strategis dalam menentukan kualitas pendidikan di Indonesia. Karena dari pelajarlah kita dapat mengukur standar tinggi-rendahnya minat baca di Indonesia.
Untuk menumbuhkan minat baca di kalangan para pelajar dibutuhkan suatu stimulus yang dapat merangsang motivasi mereka dalam menyerap ilmu pengetahuan. Motivasi itu timbul apabila didukung oleh sarana dan prasarana yang menunjang. Perpustakaan sekolah merupakan sarana yang perlu mendapat perhatian khusus dalam rangka menumbuhkan reading society dan learning society di kalangan pelajar.
Sejarah telah membuktikan bahwa perpustakaan mampu menjadikan suatu bangsa besar dan maju. Bangsa Mesir kuno, bangsa Asyria, bangsa Romawi, serta bangsa Yunani adalah sederetan bangsa-bangsa yang maju karena memiliki perpustakaan yang lengkap pada zamannya. Di masa keemasan Islam kita mengenal Cordoba dan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan. Keberadaan perpustakaan-perpustakaan yang lengkap menjadikan kedua kota tersebut sebagai pusat kegiatan belajar bagi sarjana muslim. Masa keemasan itu berakhir tatkala tentara Mongol menyerbu Baghdad dan menghancurkan perpustakaan-perpustakaan yang ada di sana. Semua buku yang terdapat di perpustakaan tersebut dibuang ke sungai Eufrat dan Tigris, sehingga airnya berubah menjadi hitam legam akibat tinta dari buku-buku yang dibuang ke sungai.
Karena itulah, sudah sepatutnya kita belajar dari sejarah, agar kita bisa berpikir dewasa dan penuh pertimbangan. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari sejarah?
Posted by azir on 28 Oktober 2009 at 5:05 pm
goog