Seni mengelola perpustakaan

  • Oleh Gola Gong

*) Penulis adalah Presiden Rumah Dunia, sebuah pusat belajar anak dan remaja di bidang jurnalistik, sastra, teater, dan film, di Komplek Hegar Alam, Kampung Ciloang, Serang, Banten. Menulis novel, tim kreatif RCTI, dan pemred www.rumahdunia.net
*) Makalah ini dipaparkan di “Membaca Cepat dan Seni Mengelola Perpustakaan” yang diselenggarakan Kelompok Kompas Gramedia, di Jakarta (25 Maret), Bandung (1 April), Bogor (6 April), dan Lampung (22 April).

Baca, jangan, baca, jangan…. Seperti bunyi tokek di dinding, kita sudah terlalu lama berjudi tentang hal ini. Pentingkah membaca? Penting. Tokek….. Ah, tidak. Tokek… Pentin… Tokek…, tidak…..! Seolah-olah kata itu jadi duri dalam daging di tubuh kita. Dicabut sakit, dibiarkan menancap juga sakit. Sekelompok orang merasa, bahwa membaca sangatlah penting dan berfungsi untuk mencapai kemajuan tingkat peradaban manusia. Membaca bagi mereka adalah pekerjaan kultural dan bisa dipakai untuk melawan hegemoni penguasa yang tiran. Membaca bisa membawa ke impian masyarakat madani kelak. Membaca ibarat menananm biji kepintaran, yang pada masa panen nanti akan kita petik hasilnya. Bahkan itu sudah merupakan sabda Tuhan dalam surat al-’Alaq. Tapi, sekelompok yang lain, menganggap membaca itu sangatlah tidak penting, pekerjaan sia-sia, membuang waktu, dan tidak mempunyai nilai ekonomis.

***

REALITAS
Kita entu tahu kalau di negeri ini pengusaha jadi penguasa. Tokoh masyarakat jadi penguasa. Preman jadi penguasa. Itu sedang jadi ciri khas di era otonomi darerah. Dan itu berbanding lurus dengan kebiasaan cara berpikir mereka yang masih kental dengan budaya ”berhitung” bukan ”berpikir”. Itu akan tampak di ruang-ruang pribadi mereka di kantor atau di rumah. Sangat jarang mereka memiliki perpustakaan pribadi. Di lingkungan mereka sendiri lebih dibudayakan hedonis dan konsumtif. Mereka lebih bangga anak-anaknya mengenal 3F Revolutions; fashion, food, film, ketimbang membentuk iklim budaya membaca (reading habit). Sangat jarang dijumpai reading-reading corner di ruang keluarga mereka, bahkan di kantor-kantor mereka, karena mereka mnegincar posi jabatan dengan cara instan.

Ini memang kendala klasik, tapi sangat menyebalkan. Para penguasa dan pengusaha lebih mementingkan jabatan atau seperti dalam puisi karya Toto ST Radik: kursi kursi, kursi/tiada Tuhan selain kursi. Ya, kursi selalu jadi tujuan utama. Kursi di dewan, di pemerintahan, di instansi, dll… Karena kursi, kita jadi lupa daratan Karena kursi, buku terlupakan. Buku jadi alas kaki.

TAKUT BUKU
Ini memang seperti menu utama di sinetron-sinetron kita; konflik kepentingan antara penguasa dan rakyat yang dikuasainya. Hampir di setiap negara yang dijalankan penguasa korup, selalu mengesampingkan pentingnya budaya membaca. Di negeri kita ini contohnya. Sejak kepemimpinan Soeharto (1970 – 1997), membaca tidak berada dalam urutan prioritas. Meminjam pepatah lama jauh panggang dari api, situasi dan kondisi para penguasa di zaman Soeharto ”Jauh rak dari buku!” Pers sebagai sarana pendukung menuju masyarakat madani, dikebiri kebebasan berpendapatnya. Bahkan masyarakat diteror dengan daftar buku yang ”haram” dibaca. Saya pada saat mahasiswa (1982 – 1986) mesti sembunyi-sembunyi membaca tetralogi ”Bumi Manusia” karya Pramoedya Anantoer atau buku-buku ”kiri” yang sangat sulit didapat waktu itu.

Di artikel ”Buku dalam Hidup Saya” (Bukuku Kakiku, Gramedia Pustaka Utama, 2005), Ajip Rosidi menceritakan kepusingannya mengurusi buku. Sastrawan senior itu mesti jungkir-balik mencatat daftar judul buku dan pengarangnya, ketika hendak membawa puluhan ribu bukunya dari Kobe, Jepang, pulang ke Indonesia. Saat itu, para penguasa di negeri kita sangat takut pada buku (bookhobia). Padahal, belum tentu mereka membaca semua buku yang mereka takuti itu.

Perpustakaan juga menjadi kuburan menyeramkan, karena jika ada yang berdiskusi dicurigai sedang menyiapkan rencana menggulingkan pemerintahan yang sah. Buku-buku yang dipajang di rak tidak bervariasi, melulu buku-buku pelajaran sekolah atau pengantar kuliah. Bagi mereka yang paling penting adalah pertumbuhan ekonomi; ditandai dengan banyaknya tempat belanja dibangun dan investor menanamkan modalnya. Perpustakaan, no way! Itulah sebabnya kenapa buku masih saja dibebani pajak memberatkan. Belanja buku di Singapura, konon, dibebani pajak nol persen. Kata Ajip lagi, “Pemerintah Singapura tahu arti buku bagi peningkatan kualitas bangsa.”

Intinya, para penguasa di zaman orde baru sadar betul, bahwa buku akan membawa pencerahan pada rakyat di negeri ini. Jika rakyat pintar, berarti itu mengancam kekuasaan mereka. Mengancam kursi yang sedang mereka duduki. Supaya tidak terbentuk masyarakat madani, yang berpartisipasi aktif dalam kehidupan bernegara , berarti buku dilarang jadi kebutuhan sehari-hari. Buku hanya boleh dimiliki oleh segolongan tertentu saja, yang mampu dan berpenghasilan cukup. Golongan itu semakin pintar dan terus berkuasa, sementara rakyat semakin bodoh dan terus tertindas. Buku diposisikan sebagai barang mewah, harganya tinggi dan mesti dibebani pajak macam-macam. Pokoknya, rakyat hanya menadahkan tangan saja dan nrimo apa yang diberikan oleh para penguasa. Yang penting, harga-harga murah, sandang-pangan tercukupi. Top-down sangat terasa sekali. Penguasa – dalam hal ini pemerintah – tidak menciptakan iklim kondusif, bottom-up.

KARYA TULIS
Sebetulnya Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, sudah mencontohkan betapa pentingnya membaca dan menulis. Bung Karno dengan terang-terangan mengagumi pikiran-pikiran Mahatma Gandhi, J. Krishnamurti, dan Swami Vivekananda lewat buku-buku mereka. Bahkan presiden kita yang insinyur teknik jebolan ITB itu mencontohkan, bahwa selain membaca juga menulis buku. Bung Karno banyak meninggalkan jejak pikirannya lewat karya-karya tulisnya. Lihatlah juga atmosfir yang diciptakannya, sehingga banyak artefak karya tulis yang ditinggalkan buat kita.Penulis-penulis kaliber dunia bermunculan. Tapi pada zaman rezim Soeharto, presiden kedua negeri, hal inilah yang sangat kurang diperhatikan oleh trias politica kita (legislatif, eksekutif, dan yudikatif) dan pendidik (guru dan dosen). Sangat sedikit karya tulis lahir dari tangan mereka. Padahal itu adalah indikasi maju-tidaknya peradaban sebuah bangsa. Pada saat ini ada pendidik yang sdh bisa membuat puisi dan mengkritik kinerja pemerintah dengan “puisi kandang ayam”, malah direspon negatif oleh pemerintah.

Faktor kelemahan ini –membaca dan menulis– disinggung oleh Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, A. Chaidar Alwasilah dalam artikelnya “Membangun Mesin Reproduksi Pengetahuan” (Pikiran Rakyat, 12 Januari 2005). Ia menuliskan bahwa, merosotnya perguruan tinggi kita disebabkan lantaran minimnya karya tulis. Citations atau jumlah karya tulis dosen yang dikutip di forum dunia adalah salah satu alat ukur, di antara lima alat ukur, untuk menetapkan kehebatan sebuah perguruan tinggi. Keempat alat ukur lainnya adalah: penilaian oleh sejawat, jumlah dosen asing, jumlah mahasiswa asing, dan rasio dosen-mahasiswa. Menurut Chaidar, melalui kelima alat ukur tersebut, The Times Higher Education Supplement, menetapkan 200 perguruan tinggi terhebat di dunia pada tahun 2004. Dan, yang menyedihkan, perguruan tinggi di Indonesia tampaknya tidak ada yang masuk dalam 200 besar, hanya beberapa perguruan tinggi tetangga yang masuk seperti, National University of Singapore (peringkat ke-18), Nanyang University (ke-50), Malaya Univeristy (ke-89), dan Sains Malaya University (ke-111).

Itu tadi, semua keterpurukan ngara dan bangsa ini, karena para pemimpinnya lebih menggemari budaya belanja tinimbang budaya membaca. Mereka lebih suka membangun mall-mall daripada seperti yang Ali Sadikin lakukan; membangun gelanggang remaja, tempat generasi muda penerus bangsa ini berkarya.

TERPURUK
Nah, selalu saja Indonesia kalah dalam soal angka. Di posisi terbaik perguruan tinggi saja, kita terlempar dari angka 200. Penduduk 220 juta, tapi yang buta aksara masih banyak. Pendapatan per kapita 810 dollar, berarti perhari orang hanya berpendapatan 2-3 dollar. Bagaimana bisa mereka menyisihkan membeli buku? Cetakan pertama sebanyak 3000 eksemplar saja kadang baru habis setelah 2 tahun. Coba simak paradoks ini, pendapatan nasional 172,7 milyar dollar. Korupsi uang negara 50 % dari APBN, sejumlah Rp. 166,53 trilyun. Menurut Kwik Kwan Gie, korupsi 2003 sebesar Rp.305,5 trilyun. Korupsi pajak dan belanja Rp 215 trilyun. Subsidi BBM Rp. 63 trilyun. Uang hilang dari pencurian kayu: Rp 30 trilyun. Kewajiban bayar utang Rp. 66 trilyun. Pengangguran 40 juta jiwa. Orang miskinnya tidak bisa dihitung. Pusing juga jika memikirkan ini.

Siapa yang salah? Jika menganalogikan Erich Fromm (Lari dari Kebebasan, Pustaka Pelajar, April 1997), di negeri korup seperti Indonesia ini, memang banyak orang yang ingin mempertahankan hak-hak istimewanya. Kelompok ini akan ketakutan setengah mati, atau mungkin terserang penyakit insomnia, jika lingkungannya atau masyarakatnya gemar membaca. Karena membaca akan menghantarkan orang atau sebuah kaum kepada zaman pencerahan. Orang akan mengerti hak dan kewajibannya. Orang akan tahu mana yang benar dan yang salah.

Surat al-‘Alaq memiliki nilai keutamaan perintah membaca (iqra’) dan menulis (‘allama bi al-qalam) sebagai keutamaan manusia dari makhluk-Nya yang lain. Nah, membaca dan menulis sudah jelas perintah Allah. Bung Karno sudah memraktekan itu. Tapi pada rezim orde baru, hilang ditelan zaman. Bahkan era budaya tonton mulai muncul di tahun 1989 dengan televisi swasta. Mungkin yang ada di benak para penguasa orde baru, untuk apa mengurusi rakyat dengn buku? Tidak ada nilai ekonomisnya.

BANGKIT
Hampir semua negara maju memiliki sejarah pajang tentang masyarakatnya yang gemar membaca. Cobalah kita harus berkaca pada Jepang. Setelah luluh-lantak dibom atom Amerika, kaisar menanyakan, “Ada berapa guru yang tersisa?” Dengan gurulah, Jepang bangkit membangun kembali negerinya. Buku-buku asing pun diterjemahkan. Bahkan buku-buku terbaru dai Amerika, dalam waktu cepat sudh diterjemahkan di Jepang. Masyarakat membaca (reading society) betul-betul dibentuk oleh penguasanya. Terbukti, pada tahun 1960, Jepang sudah jadi pesaing ekonomi Amerika.

Di Indonesia, pada 1997 reformasi digulirkan mahasiswa dan beberapa kaum cendekia yang mengimpikan perubahan zaman. Kalau Che Guevara dengan cara memobilisasi massa dan melakukan revolusi sosial menghancurkan rezim yang tiran, Amien Rais mencontohkan kepada kita, bahwa dengan pena sebuah rezim tiran bisa kita hancurkan. Tulisan-tulisan Amien Rais memberi inspirasi kepada jutaan mahasiswa untuk begerak melindas rezim tiran. Dan tumbanglah para penguasa rakus serta otoriter itu. Dalam urusan lokal, Rumah Dunia di Banten meminjam jargon Toto ST Radik, penyair nasional kelahiran Serang,“asah penamu, simpan golokmu” untuk melawan hegemoni jawara. Kami secara pelan-pelan mengajarkan anak-anak, pelajar, dan mahasiswa membaca dan menulis, agar kelak terbentuk generasi baru yang cerdas dan kritis serta berani.

Sejak pasca reformasi itu bergulirlah masa dimana orang Indonesia mencari-cari buku. Pers nasional dan lokal bermunculan. Baik itu cetak ataupun elektronik. Para penerbit pun bagai jamur di musim penghujan. Semua orang tiba-tiba bersemangat dengan buku. Jargon ‘Indonesia Membaca’ atau “Budaya Literasi” muncul di mana-mana. Di tingkat lokal semua juga begairah mendukung gerakan di Jakarta; Banten Membaca, Riau Membaca, Aceh Membaca, dll.

Begitu juga televisi. Antara budaya baca dan tonton saling berkejaran. Program-program talk show atau infotainment diusahakan bisa menyisipkan aroma “budaya literasi”. Metro TV paling getol mengampanyekan ini; mengundang nara sumber yang berkompeten dalam hal perbukuan, aktivis literasi, bahkan program “Pustaka Pustaka”. Di radio, kini majalah Mata baca tampil di barisan terdepan dengan mengusung “Jendela Dunia Pustaka”. Mata baca juga menggandeng radio Jakarta News FM dan kini RRI dengan acara “Pusta Pustaka”. Di koran-koran rutin di awal bulan Harian KOMPAS hadir dengan halaman “Pustakaloka”. Sedangkan Koran Tempo dengan “Ruang baca”.

BERGAIRAH
Lantas apa yang harus kita lakukan sebagai rakyat? Atau sebagai anggota masyarakat di tempat kita tinggal? Apakah kita diam saja berpangku tangan, tidak ingin terlibat dalam percepatan perubahan bangsa ini? Ketika semua orang di negeri ini mendengung-dengungkan, betapa membaca dan menulis adalah sesuatu yang penting selain sandang dan pangan, kita jadi penonton saja di pinggir jalan?

Lihatlah apa yang dilakukan oleh IKAPI dengan pameran bukunya; IKAPI Book Fair, dan penerbit yang mengususkan di buku-buku Islam dengan “Islamic book Fair”. Bahkan yang spektakuler Forum Indonesia Membaca menggandeng “Senayan Library” di Perpustakaan Diknas Jakarta, menggelar acara besar “World Book Day” dari 2 Maret hingga 5 Maret 2006. Semua komunitas di Indonesia yang mengusung misi budaya literasi dan para penerbit berkumpul saling berbagi suka dan duka tentang situasi dan kondisi kebiasaan membaca masyarakat lingkungannya masing-masing.

Juga 1001Buku Jakarta, yang sudah puluhan bahkan ratusan ribu buku mereka salurkan ke komunitas-komunitas baca. Para penulis islami yang tergabung di Forum Lingkar Pena membuat komunitas baca Rumah Cahaya di Depok dan cabang-cabangnya di Penjaringan Jakarta Utara, Pekalongan, dan Medan. Secara perseorangan juga mulai bermunculan; Rumah Pelangi di Muntilan, Mentari Pagi di Blora, Kwartet Baca, Stasiun Buku di Jatinegara, Tegal Gundil di Bogor, Rumah Buku Cengkilung dan Rumah Buku Renon di Denpasar, Bali, serta bunga Matahari di Jakarta. Di Bandung dan Yogya bertebaran komunitas baca. Di Padang Yusrizal KW menggawangi. Di Tasikmalaya ada Acep Zamzam Noor dengan sanggar Azan. Secara institusi dan punya kepentingan politik juga ada, sepreti Manca (Taman baca) milik Laksamana Soekardi, yang tersebar sebanyak 55 titik di pelosok negeri. Untuk kepentingan citra perusahaan juga dilakukan, seperti RCTI Peduli dan Hoka-Hoka bento yang membangun Rumah Baca Peduli di 14 titik desa di Pulau Jawa. Coca Cola Foundation menggandeng LSM Pakta, mengadakan pelatihan-pelatihan dan membangun perpustakaan-pepustakaan di beberapa wilayah terpencil. Apapun kepentingannya, semua punya maksud yang sama, yaitu membangun masyarakat mdani lewat membaca.

AWAL KECIL
Saya termasuk yang tidak ingin jadi penonton.Bersama para relawan di Banten, koran Radar Banten, Sanggar Sastra Serang, Imaji Multi Media, dan Suhud Media Promo, membangun Rumah Dunia di kampung Ciloang, Serang, Banten. Tidak perlu berpikir akan membuat sesuatu yang besar, tapi berawal dari yang kecil dulu. Semua mesti bemula dari hati, setelah itu bergulir barulah kita pikirkan. Kami melakukannya dengan metode think global, act local. Semua kami lakukan adalah untuk mendukung Jakarta. Percepatan ini harus kita dukung di setiap tempat dimana kita tinggal. Lakukan dengan apa yang kita punya, jangan meminta. Bermula dari yang kecil, berwawasan luas, dan terus berkarya, iutlah modal kami di Rumah Dunia.

Pertama, saya melakukannya di teras rumah. Dengan buku alakadarnya. Saat itu saya dan istri saya mensosialisasikan “Rumah Dunia” kepada lingkungan di sekitar, bahwa buku adalah bagian yang sangat penting di dalam berkehidupan. Setelah menyebar ke kanan kiri tetangga, target saya se-RT, terus se-kampung (RW), se-kelurahan, se-kecamatan, se-kabupaten, se-provinsi, bahkan kini sudah menasional gaungnya, yaitu menularkan virus membaca dan menulis.

Saya percaya, bahwa membaca adalah ibarat menanam biji, yang kelak akan tumbuh subur jika terus diberi pupuk. Apa pupuknya? Tentu menulis. Membaca saja tanpa menulis, itu seperti sayur tanpa garam. Tidak seimbang. Membaca adalah investasi jangka panjang, yang nilai ekonomisnya rendah. Tapi, percayalah, pelan tapi pasti, panen raya akan kita petik dari biji-biji yang kita tanam. Itu berarti, masyarakat madani akan tercipta dengan sendirinya.

KEGIATAN
Parni Hadi, Diretur RRI, mengatakan di acara “Grasindo: Perpustakaan Atraktif”, Bentara Budaya, Kompas, Jakarta, 28 Februari 2006, bahwa perpustakaan harus dihidupkan dengan kegiatan. Saya tentu setuju dan itu sudah kami lakukan di Rumah Dunia.

Ya, kita harus mau merubah cara berpikir lama, bahwa perpustakaan adalah segala-galanya atau perpustakaan sebagai gudang ilmu, pada masa kini sudah tidak populer lagi.Perpustakaan harus mulai jadi bagian atau satu unsur kesatuan dari unsur-unsur yang lain. Semisal “TBM” (Taman Baca Masyarakat), yang menurut saya sudah harus dirubah menjadi “Taman Belajar Masyarakat”. Perpustakaan atau buku adalah sarana penunjang saja, dimana di dalam TBM itu ada kegiatan penunjang lain.

Kita tentu sudah tahu, bahwa hampir semua perpustakaan di seluruh Indonesia; apakah itu perpustakaan kantor, sekolah, perguruan tinggi, masjid lebih mirip gudang buku, kuburan atau kamar mayat. Cemoohan bahwa penjaga perpustakaan atau pustakawan itu selalu berwajah jelk, berkacamata tebal, galak, dan posisi terbwah sudah jadi rahasia umum.

Jadi kegiatanlah sebetulnya yang paling penting. Kalau orang mengtakan, bahwa jantung pendidikan iut adalah perpustakaan, kini harus dirubah sebagai “Perpustakaan adalah jendela ilmu pusat belajar”. Sedangkan pintunya, dapurnya, tempat tidurnya, teasnya, halamannya, adalah kegiatan-kegiatan yang menunjang sebuah tempat belajar menjadi hidup. Ini memang analogi dari saya yang mengelola taman belajar masyarakat Rumah Dunia.

Bagi saya taman belajar atau pusat belaar haruslah ekspresif, rekreatif, edukatif, inovatif, dan progresif. Setiap hari harus ada kegiatan, agar para pengunjung tidak bosan. Di Rumah Dunia, saya dan Tias Tatanka – istri tercinta, menamainya dengan “wisata”, agar terasa ramah dan familiar. Seiap hari, sepulang sekolah, kami mengadakan kegiatan ruin. Pada hari Senin ada kegiatan “wisata baca dan dongeng”. Kami mengajak anask-anak berfantasi ke negeri-negeri dongeng. Kami menenalkan anak-anak pada cerita-cerita fantasi. Tapi, kami juga mengajak mereka belajar mendengar dan berbicaralewat dongeng. Istri dan ibu saya yang mengelolanya. Kadangkala si anak pun kami libatkan, satu persatu dipersilahkan mnedongeng, menceritakan buku-buku yang sudah mereka baca.

Selasa lebih rekreatif, yaitu “wisata gambar”. Crayon dan kertasnya kami sediakan. Semua anak hanya datang dan menggambar. Tutornya Indra Kesuma, guru kesenian. Dia hanya ingin mengajak anak-anak berbahagia lewat wrna. Dia tidak menyuruh si anak mengikuti kemauannya. Menggambar hanya dijadikan media berekspresi. Semua anak dipersilahkan dengan imajinasinya sendiri, tentang apa itu bentuk dan warna.

Rabu ditingkatkan menjadi “wisata tulis dan study”. Setiap anak dilatih menuliskan penalamannya sehari-hari dan diajak mengenal dunia jurnbalistik secara dini, bagaimana kita mengeal pekerjaan seseorang dengan metode unsur breita (5W + 1 H). Tulisan-tulisan prosa, puisi, dan laporan jurnalistik mereka sudah kami bukukan dan di up load di situs kami; www.rumahdunia.net.

Kamis lebih kompleks, yaitu “wisata teater/lakon”.Anak-anak dilatih mengekspresikan dirinya menjadi orang lain. Piter Tamba dan Ade Mulyawati dengan sabar dan tekut melatih mereka. Tidak gampang pada awalnya, karena mereka sudah terbiasa liar; bermain di sawah dengan krebau, ular, kambing, dan belut. Jiwa mereka dihaluskan lewat tokoh-toko diluar dirinya. Lambat laun mereka menjadi luwes, mampu mengadaptasi setiap tokoh di dalam naskah yang akan dipentaskan. Hidup mereka mnejadi lebih hidup. Beberapa kali mereka sudah tampil di Jakarta dan bahkan sudah menjadi “aktor/artis” di film-film pendek produksi Rumah Dunia.

Pada Sabtu dan minggu giliran pelajar dan Mahasiswa belajar di Rumah Dunia. Sabtu lebih dikhususkan pada diskusi; tentang apa saja, politik, ekonomi, budaya, dan seni. Juga peluncuran dan bedah buku sering jadi menu Sabtu. Bahkan kami selalu memanfaatkan momentum unutk berkegiatan, salah satu cara memrovokasi warga, agar datang ke Rumah Dunia. Misalnya pada Hari Anak, Juli, kami membuat kegiatan ”Pesta Anak”. Setiap tahun. Kini sudah ”Pesta Anak ke-Empat”.

Minggu lebih dikhususkan pada kelas mneulis atau ”writing course”. Saya turun langsung menangani ini, dibantu Toto ST Radik dan praktisi lokal dari Radar Banten. Para pelajar dan mahasiswa belajar jurnalistik, fiksi, dan film. Sesekali diselipkan pelatihan dengan mendatangkan nara sumber dari Jakarta. Dari Ahmadun Yosi Herfanda, Helvy Tiana Rossam Gus tf Skai, Jamal D Rahman, Kurnia Efendi, Fira basuki, Chavcay Saefullah, Soni Farid Maulana, Asma Nadia, Hilman Lupus, dan masih banyak lagi, sudah membagi-bagikan ilmunya kepada para peserta kelas menulias. Sekarang sudah memasuki angkatan ketujuh. Setiap angkatan memakan waktu 6 bulan pembelajran; teori dan praktek. Beberapa alumninya sudah ada yang bekerja di koran Radar Banten dan menjadi penulis lepas. Qizink La Aziva, Ibnu Adam Aviciena dan Najwa Fadia sudah menerbitkan novel. Sedangkan Endang Rukmana menyabet ”Unicef Awarda 2004” dan Adkhilni MS memenangkan lomba essay IKAPI Book Fair 2005.

Begitulah semestinya perpustakaan atau taman bacaan hidup. Para pengelolanya harus mempunyai dedikasi dan loyalitas mengabdi kepada kepentinga orang banyak, sehingga hal-hal yang brebau formal di perpustakaan dihilangkan. Tentu pemerintah harus mulai serius dan jangan setengah hati membngun budaya literasi ini. Apalagi pihak swasta pun sudah ikut peduli. Cobalah semuanya dimulai dengan mencari nama-nama bagi tempat atau pusat belajar yang akan kita dirikan. Sepreti Senayan Libray” yang formal di Prepustakaan Diknas, Jakarta, yang mulai menggeliat dengan pencitraan baru. Mencari nama yang mudah diingat, tidak formal, tidak memihak pada sebuah golongan, netral dan lintas (universal). Nama yang mengandung sebuh makna atau arti, agar bisa terjadi pencerahan. Nama adalah karakter, pencitraan. Seperti Rumah Dunia, Rumah Pelangi, Mentari Pagi, Rumah Cahaya, Stasiun Buku.

Nah, bagaimana?
Berani memulai?

Tanggapi posting ini