PESTA BUKU JAKARTA
27 JUNI – 05 JULI 2009




|
||
|
|
||
29 Jun
PESTA BUKU JAKARTA
27 JUNI – 05 JULI 2009




|
||
|
|
||
10 Jun
Rabu siang itu telah menjadi sejarah tak terlupakan bagi anak-anak wisatabaca. Meskipun hujan turun membawa petir dari langit, meskipun jalan telah diselimuti banjir setinggi lutut bocah, ternyata masih ada yang membagikan secercah kepedulian.
Ditengah guyuran hujan kala itu, wisatabaca kedatangan seorang tamu. Penampilan mereka sederhana. Pun sikap mereka apa adanya. Tapi ada cahaya di sana. Ada yang memancar dari orang-orang sederhana yang mendukung aktivitas baca. Wajahnya bersahaja. Mereka mengeja hidup agar tetap peduli pada sesama. Betul-betul seperti mimpi. Terasa sampai detik ini.
Merenungi sejarah siang itu, saya jadi teringat sebuah film, judulnya “Bed of Rose”. Dalam film itu, dikisahkan seorang laki-laki pemilik toko bunga. Dia sering keliling kota, melihat-lihat aktivitas warga. Jika ketemu seorang warga sedang dirundung duka, dia akan menghantarkan sendiri rangkaian bunga itu, dengan harapan orang yang sedang sedih itu akan kembali bersemangat dan gembira.”Di situlah sensasinya. Saya baru merasa bahwa hal-hal kecil kadang sering tidak kita pikirkan, bahwa itu bisa membuat orang lain merasa bahagia dan kembali semangat,” katanya. Ya, hal-hal kecil. Itulah yang mungkin sering terjadi di sekeliling kita. Namun sering juga kita abaikan.
Pada dasarnya itulah cinta dan kepedulian. Ya, dengannya kita bisa bagikan kebahagiaan. Maka, jika di dalam hati kita tidak ada niat ikhlas untuk berbagi atau saling memberi, kebahagiaan itu tidak akan dapat kita temukan. Ternyata, kebahagiaan memang bukan dicari, melainkan diciptakan oleh hati kita, yang bisa ditebar di mana-mana. Ya, semua bermula dari diri kita sendiri. Semua bermula dari “cinta”.
10 Jun
Beberapa hari ini banyak kejadian yang benar-benar menggugah hatiku, kelaparan yang terjadi pada seorang wanita hingga harus meregang nyawa, remaja yang mengakhiri hidupnya dengan narkoba, sang ayah yang lebih memilih gantung diri lantaran ketiadaan makanan yang cukup bagi keluarganya, kasus gizi buruk dan anak balita terguyur kuah bakso di televisi yang membuat nafsu makanku menurun drastis.
Saat itu, aku sedang naik KRL penuh sesak menuju Stasiun Kota. Ya Allah, inikah angkutan rakyat? Naruh kaki saja susah banget. Selepas Senen, gerbong KRL agak lowong. Lalu muncul sesosok balita laki-laki tengah tertatih menggerakkan sapu lidi, menyapu sampah yang dibuang sembarangan oleh para penumpang kereta. Dia bergerak maju dengan posisi jalan jongkok, sebentar-bentar berhenti dan menatap ke sekeliling dengan mata sayu dan memelas. Ternyata bukan aku saja yang tersedot perhatiannya pada anak kecil itu. Nyaris semua penumpang terenyuh menyaksikannya. Siapa yang tega menyaksikan anak berusia sekitar empat tahun “menyapu’ lantai gerbong kereta api demi menghidupi diri? Ketika hendak menyapu dihadapanku, tiba-tiba seorang anak perempuan seusia kelas enam SD, membentak anak balita itu, lalu mengajaknya pergi. Si balita pun akhirnya bergegas bangun dan membiarkan sampah berserak kembali, lalu segera menyusul “sang kakak”. Dengan rasa ingin tahu, akhirnya mataku pun ikut bergegas mengikutinya. Selanjutnya, si perempuan ABG itu duduk menyender di sambungan gerbong sambil asyik menghitung rupiah yang telah dikumpulkan si balita. Dia tak peduli sekeliling, apalagi pada “adiknya”. Aku pun mengelus dada. Nyeri! Se-nyeri membayangkan Pesawat TNI yang menelan prajuritnya lantaran dimakan usia. Sungguh, semakin membuat miris dan memar hati, hidup di negeri yang “katanya” makmur ini.
Tahun 2009 baru 1/2 jalan menjelang, telah disambut dengan keprihatinan dan nyeri yang begitu mendalam. Meski, harapan tetap menyalakan lilin di hati. Masih ada, pasti masih ada calon-calon pengubah wajah negeri ini, menjadi lebih baik lagi. Para pengubah yang memaknai hidupnya agar “lebih berarti”.
Gola Gong! Siapa yang tak kenal Gola Gong? Sang novelis remaja yang aktif mengelola taman bacaan Rumah Dunia (www.rumahdunia.net). Dalam bukunya, ia pernah katakan; ”Saat saya mengalami kecelakaan terjatuh dari pohon di usia 10 tahun dan harus merelakan tangan kiri diamputasi sebatas siku, saya memulai hidup baru dengan menyandang predikat “si buntung”. Akan tetapi, kedua orang tua saya telah membimbing dan membesarkan saya dengan penuh cinta dan ilmu, bukan dengan harta. Dengan kedua hal itu, saya memulai petualangan baru dengan mengenali potensi diri saya…………..” Akhirnya, dengan cinta itulah taman bacaan Rumah Dunia dibangun dengan kata-kata. “Percayalah, Allah tidak akan menciptakan beban tanpa menciptakan pundak. Oleh karena itu, kita sebagai pengemban amanah pundak itu, haruslah terus memperkuat diri. Hidup ini terasa indah jika kita mengisinya dengan cinta. Maka nikmatilah……”
Terimakasih untuk rencana indah-Mu, ya Allah. Kau kirim pengingat disaat yang tepat, bimbinglah kami, agar selalu menjaga amanah-Mu. Walau apa yang ku kerjakan ini hanya setitik di lautan-Mu. Bahwa setiap manusia yang lahir di dunia membawa takdir dan potensi yang berbeda-beda. Bahwa, standar kemuliaan seseorang di sisi Allah adalah bagaimana mengoptimalkan potensi yang diberikan itu lebih bermakna dan mempesona di jalan takwa. Sehingga masa yang masih dalam genggaman ini, menjadi masa yang kelak dikenang keindahannya dan dikenang pula hal-hal terbaik yang pernah kulakukan…….
8 Jun
Jakarta – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bukan tanpa sebab mendukung pasangan SBY-Boediono. Tidak karena alasan pragmatis tetapi karena realitas politik. Setidaknya ada 8 alasan yang mendasari pilihan itu. Salah satunya tidak bermental orde baru.“Pertama PKS hanya ingin koalisi dengan partai reformis. Kader-kader menolak koalisi dengan kelompok bermental orde baru,” kata Presiden PKS Tifatul Sembiring dalam acara deklarasi dukungan pada SBY-Boediono di Surabaya, Jawa Timur.
Hadir pula Korwil PKS Jatim-Bali Sigit Sosiantomo, Ketua DPW PKS Jatim Ja’far, dan Fungsionaris pusat PKS Suripto. Juga hadir pengurus partai pendukung koalisi.
“Kedua, SBY pro perubahan, sudah banyak hasil dicapai lebh baik. Seperti keamanan, ekonomi, swasembada pangan, bantuan kepada orang miskin, pemberantasan korupsi dan lainnya,” lanjut Tifatul.
Tifatul juga menerangkan alasan-alasan lainnya yakni,
“Di beberapa Pilkada, PKS sudah berjuang habis-habisan, PKS tidak ingin ditipu lagi,” lanjut Tifatul.
Keempat, sambung Tifatul, pengalaman Pilpres 2004, koalisi PD, PKS, PKPI, dan PBB sukses mengantarkan SBY-JK menjadi presiden dan wakil presiden, tetapi datang partai-partai yang tidak berkeringat bergabung meminta jatah di kabinet lalu ingin menggeser PKS.
Yang kelima, lanjut Tifatul, berkaitan dengan keputusan majelis syuro. Koalisi dengan SBY merupakan keputusan majelis syuro yang ke XI.
“Majelis syuro sebagai lembaga tertinggi partai telah memberikan legitimasi kuat untuk koalisi,” imbuhnya.
Sedang alasan yang keenam, Tifatul menyebutkan pilihan pada SBY sesuai aspirasi konstituen, di mana 70 persen kader menghendaki PKS berkoalisi dengan SBY dan PD. Serta yang ketujuh, SBY bersikap akomodatif terhadap usulan-usulan solusi bangsa.
“Dan yang kedelapan, SBY disukai dan didukung oleh rakyat, terbukti dari tingginya hasil survei,” terang Tifatul.
Untuk itu Tifatul bertekad mengoptimalkan mesin politik PKS. “Agar dapat menyumbangkan 2 kali lipat perolehan suara dari pemilu legislatif lalu,” tutup Tifatul.
*detik.com
2 Jun
ini bagian kedua tentang kisah perjalanan 7 pendaki yang tersesat di Lereng Ceremai.
SEPENGGAL EPISODE KEBESARAN ALLOH DI LERENG CIREMAI
Sabtu,24/05/09, jam 16.00 (Lereng Ciremai)
Tujuh Personel yang menaiki Gunung Ciremai , 1 dari Cirebon (Fredi) 6 dari Bekasi Timur (Iwan, Abd.Hatni,Warso, Didi, Widi, dan Gembong) dalam perjalanan turun setelah mendaki Ciremai, mereka ingin turun Lewat Jalur Linggar Jati, tapi mereka mendapatkan kesulitan bahwa ternyata jalur turun mereka bukan ke arah LinggarJati melainkan Jalur Tikus ( jalur yang tidak biasa d pakai pendaki Gunung) Jalur Tikus adalah jalur warga setempat untuk menuju Kawah burung Walet.. apalagi mereka mengalami kesulitan ketika Satu diantara mereka, Akh Iwan terjatuh ke jurang…setelah dievakuasi oleh kawan2nya dan dalam keadaan Luka, maka disepakati bahwa, harus ada yang turun untuk meminta Bantuan, dan Widi ( yang diperkirakan masih segar) lalu Fredi (Guider dari Cirebon) mereka diutus untuk meminta bantuan dengan turun lebih dulu. Disepakati pula seandainya dalam 2×24 jam tidak datang pertolongan dari bawah maka 5 personel yang tertinggal di atas akan berinisiatif turun
Sabtu,24/05/09, jam 19.00 (Bekasi)
Informasi itu datang jam 19.00 hari sabtu diterima oleh Akh Ali Koordinator Kepanduan KORCA Bekasi Timur….
Salah seorang diantara kami jatuh ke jurang….!!! Itulah informasi WIDI yang sampai saat itu dan di respon oleh Akh Ali di Bekasi Timur…
Sabtu,24/05/09, jam 19.00 (Lereng Ciremai)
Perbekalan sengaja ditinggalkan untuk 5 personel yang tinggal . dengan berbekal Air dan senter, Kedua orang ini menuruni lereng untuk meminta bantuan….
Dalam keadaan Hujan malam Hari yang deras mereka turun, tidak bertahan lama mereka harus berhenti dan tidak bisa melanjutkan perjalanan turun karena situasi kondisi tidak memungkinkan….!!!
Ahad,24/05/09, jam 01.00 (Bekasi)
Team Bekasi meluncur ke Kuningan…….Ciremai
Ahad,24/05/09, pagi , sore s/d malam (Lereng Ciremai)
Siang hari Berdua, Widi dan Fredi melanjutkan perjalanam turun,… tanpa tahu arah pokoknya turun,…. Mereka berharap bisa bertemu warga yang sedang mencari kayu atau naik ke kawah wallet. Mereka merasakan bahwa tersesat dan bingung. Sadar bahwa apa yang dilakukan salah mereka berdua kembali naik keatas..,,, kembali berharap sampai jalur pendakian saat dia turun , sambil juga seandainya keberuntungan berpihak dan bertemu dengan pendaki gunung yang lain….. Pantang tak bisa di Hadang aral tak bisa dicegah,…Perjalanan keatas mendapatkan kesulitan ,…dan tak sesuai dengan Jalur yang di inginkan…. Hingga…..tersesat….
Ahad,24/05/09, pagi (Kaki Ciremai, Pesantren Khusnul Khotimah, Posko LinggarJati)
Team Bekasi, Personal Relawan Bantuan Khusnul Khotimah, Jagawana Posko Linggarjati mengadakan koordinasi penyisiran dari arah Linggar Jati…..
Bola salju bantuan bergulir Kepanduan Jabar, Alamiy Indonesia, Las Tamu Bekasi, Bulan sabit Merah, Rumah zakat, Basarnas, Kepolisian,TNI, Gabungan Pecinta Alam) tergabung dalam SatKorLak…… Melakukan koordinasi Titik Penyisiran…..!!!
Ahad,24/05/09, sore s/d malam (Lereng Ciremai)
Intensif melakukan penyisiran dan pengiriman regu untuk naik ke atas…Berdasarkan koordinasi diadakan pengalihan pencarian melewati posko jalur Palutungan,…. Team Relawan Internal Ikhwah dari Jawa Barat mendominasi (Kepanduan, Alamy, Tamu,Bulan Sabit Merah, Rumah Zakat)…..Kepanduan Bekasi Kota/Kabupaten,Depok,Cireb on,Indrayu, Bandung, Garut hampir merata di Jawa Barat berdatangan, bahkan Team dari Jogja dan semarang juga turun untuk membantu…. Lebih dari Personal tercoordinasi dalam catatan terakhir
Ahad,24/05/09, page , sore s/d malam (Lereng Ciremai)
5 orang yang bertahan dalam keadaan cuaca Hujan,Kabut dan dingin yang sangat…..mereka menunggu hingga bantuan datang…. Dengan perbekalan yang menipis, Alhamdulillah Persediaan air bisa tertutupi dengan menampung air Hujan…..tetapi terbatas karna tempat menampung juga terbatas….!!!! Mi instant bbrapa bungkus, supplement Madu yang digunakan sebagai penambah tenaga untuk bertahan masig bisa dimanfaatkan …. Bahkan Luka yang cukup serius di kepala Akh iwan bisa sedikit dirasa nyaman dengan dikucur dengan Madu( SUBHANALLOH) luka tidak lagi mengeluarkan darah sepeti semula…. sesuatu ilmu yang baru ….
Senin,25/05/09, page , sore s/d malam (Lereng Ciremai-Widi Fredi)-
(Kaki Ciremai-SatKorlak )-( Lereng Ceremai-2345 DPL-5 korban bertahan)Lereng Ciremai-Widi Fredi
Dalam keadaan Lemah Senter Terjatuh tidak membawa alat Bantu-golok,…. Berjalan dan baerjalan, berharap dan Berharap akan Pertolongan ALLoh….
Kaki Ciremai-SatKorlak
Intensif melakukan penyisiran , gabungan Relawan melakukan dari berbagai arah bertahap dan estafet team terus bertambah….belum mendapatkan petunjuk…..
Lereng Ceremai-2345 DPL-5 korban bertahan
Sebagaimana Kajian Liqo dengan nuansa yang LUAR BIASA , saling Tausiyah Sholat Berjamaah, Bacaan Qur’an menggema di Lereng Ciremai disaksikan Hamba Alloh yang sujud dan ruku’ akan Kebesaran ALLOH dan mereka menjadi saksi SEKALIGUS meng-Amin kan Do’a2 panjang nan khusyuk yang mereka Panjatkan KEPADA ALLOH ,atas Keteguhan ASHABUL KAHFI atas nilai-nilai KEBAIKAN dan KEMULIAAN…..
Selasa,26/05/09, Pagi (Lereng Ceremai-2345 DPL-5 korban bertahan)
Penantian yang panjang dalam keterbatasan dan Kelemahan keputusan bahwa dalam 2×24 jam inisiatif harus bergerak diambil , bertahan dalam dinginnya cuaca, Hujan yang berkepanjangan, asupan makanan yang minin dan suasana yang ….tidak kondusif dikawatirkan terjadi HypoTermia,… maka saatnya keputusan turun diambil,….lewat jalur mana saja yang penting turun,….. Meninggalkan sesuatu yang tidak dibutuhkan Baju , sesuatu yang memberatkan satu/satu di buang dalam perjalanan, yang tersisa hanya sedikit mie instant kue,dan air Hujan Tampungan –jatah yang amat sedikir jika harus berbagi 5 Orang-…..SUBHANNOLOHU,.. ALLOh Maha Tahu hamba2nya yang SHOLEH,…
Selasa,26/05/09, siang ( LerengCiremai +- 2500 DPL-Fredi-Widi)
MAHA SUCI ALLOH ….Team SAR berhasih menemukan keduanya dalam keadaan Lemah tanpa Bekal sedikitpun selama 2 Hari) segera di evakuasi ke RSUD 45 Kuningan…..
Berdasarkan informasi yang masih terbatas Team SatKorLak (SAR Gabungan -Kepanduan-Alamy ) menentukan titik koordinat dan Focus pencarian di Jalur turunan puncak-Palutungan di bawah Tegal KiJamuju…kira2 (+/-2250 DPL)…
Rabu,27/05/09, pagi , sore s/d malam (Kaki Ciremai-palutungan -SatKorlak )-( Lereng Ceremai-2200 DPL-5 korban Bergerak Turun)
RSUD 45 Kuningan -Widi, Fredi
Mendapatkan perwatan infuse, karena kondisi yang sangat lemah Kaki Ciremai-SatKorlak
Kembali Intensifitas penyisiran dilakukan, gabungan Relawan menemukan petunjuk berupa suratsingkat yang terulis “ikuti, saya turun lewat jalur air.” Dan juga banyak ditemukan petunjuk baru berupa bungkus Madu bungkus plastik dan t4 berteduh…!!!SELEBIHNYA …tidak ada tanda tanda berarti yang membantu…..
Lereng Ceremai-+-2000 DPL-5 korban turun Gunung
Sebagaimana dalam keterbatasan dan lemahnya Tubuh mungkin amat sulit untuk bisa bertahan berjalan Jauh tapi sekali lagi BUKTI KEBESARAN ALLOH justru akh Iwan yang dari awwal jatuh sampai hari keDua hingga diputuskan untuk Turun beliau mampu berdiri dan berjalan walaupun harus dengan papahan …..SUBHANALLOHU….
Kamis,28/05/09, pagi…. –EPISODE MENGHARUKAN
Pagi ini raut wajah yang tidk ada senyum, rasa cape pun tidak dirasa, sembari bertannya Tanya dimana dikau ya Saudaraku,…..!!! bahkan Akh Widi yang sudah bisa diajak untuk menunjukkan lokasi pun harus dibawa Pake Motor trail menuju cigowong,…titik akhir jalur terbawah hutan,……belum menggembirakan,….Team Bawah yang siap Aplusan dibentuk untuk menggantikan jika ada team yang turun,…. Bersiap siaga…ada yang tidak sabar kenapa harus ditahan untuk ke atas padahal yang dibawah lebih dari 100 orang dari berbagai elemen, Dan memang team yang tersebar diatas sudah juga lebih dari 120 yang sedang menyisir dan ada yang sudah 2 hari ada yang 3 hari bertahan di hutan.
Jam 11.00 teriakan TAKBIR dan balasan ALLOHU AKBAR kencang terdengan dari POsko GAbungan Jawa Barat….Sontak semua berkumpul dan bersiap dengan gerakan masing2 , persiapan Medis Mobil Ambulan…… 1 ambulan. 2 mobil Basarnas mersegera menuju tiik terakhir mobil bisa meluncur jam 11.30 ,wajah Shahabatku satu persatu muncul di bonceng motor trail menuju ambulan dan Mobil REsque,… Episode MENGHARUKAN teriakan TAKBIR ,TAHMID, dan TAHLIL tak henti di teriakkan….!!! BUKTI KEBESARANMU YAA ALLOH…
( Terakhir 5 orang ditemukan bbrapa ratus meter dibawah dari Koordinat yang disisir….mereka berada di Kebon sayur milik Petani , Dalam Perjalanan dan Perjuangan Panjangnya mereka sampai juga didaerah Pasik Isik 1 jam perjalanan dari Cigowong, mereka di temukan oleh team Relawan Masyarakat setempat yang dengan sukaRela membantu proses Pencarian dari awal….) 2jam perjalanan dari Posko Palutungan, dan ini berarti sebuah prestasi yang Luar Biasa dan atas KEMAHA BESARAN ALLOH mereka bisa bertahan,… sebuah kisah yang amat menarik apabila digali dari setiap mereka yang terlibat,…pelajaran2 Berharga yang Alloh sudah tunjukkan melalui episode perjalanan kehidupan, bahkan Guyonan candaan masih mereka bisa Lakukan dalam himpitan suasana seperti itu,….ketika kami berada dalam ambulan yang membawa akh Iwan pun Bliau menangis sesunggukan dan haru atas perhatian yang diberikan …Bliau tidak menyangka bahwa antusiasme Akan Aura kepedulian ditunjukkan tanpa Pamrih dan diliput mungkin tidak hanya Media Televisi Lokal, bahkan Life dari Lapangan,…
Semoga menjadi wasilah Pembelajaran bagi QT semua.)
2 Mar
Di Stasiun Manggarai
Minggu kemarin (22/02), saya hendak pergi ke rumah saya yang berada di Citayam, Bogor . Saya pergi dengan Istri , anak saya Zhaffa serta Bapak Mertua. Rencana kami untuk menuju kesana adalah dengan menggunakan KRL Kebetulan memang jarak stasiun kereta Manggarai dengan rumah kami tidak begitu jauh, bisa ditempuh kurang lebih 10 menit jalan kaki.
Sesampainya distasiun Manggarai, kami menunggu KRL yang datang, Tak berapa lama keretapun datang, namun sial bagi kami, kereta sudah penuh dari stasiun Kota . Terpaksa kami menunggu kereta berikutnya, kami berencana naik KRL Ekonomi AC yang nyaman untuk anak Saya.
Sambil menunggu kereta datang saya melihat ada sekelompok anak-anak kereta (anak-anak yang suka mengamen atau menyapu kereta) sedang bercanda sesama mereka. Baju mereka tampak kotor, mungkin memang hanya baju yang melekat itu yang mereka miliki.
Sayapun mencoba mendekati salah satu diantara mereka. Sambil menggendong anak saya, saya bertanya
“Nama kamu siapa?”, . “Sholeh Mas..”. “Ohhh…” gumamku. Lalu akupun bertanya lagi, “kerja kamu apa ?”. “Menyapu di kereta, tetapi hari ini Saya tidak kerja dulu”. “kenapa?”, tanya saya. “Dari pagi hinggan jam 11 siang gini ada razia”. “Kemarin ajah teman saya ada yang ditangkap”. “Dari pagi saya juga belum makan Mas”. Sholeh berbicara dengan saya sambil bercanda dengan anak saya dan juga dengan rokok ditangannya. Makanya, saya melepaskan Zhaffa ke Bundanya biar tidak kena asap rokok.
Memang saat ini di kereta ekonomi Jakarta – Bogor , semua pedagang, pengemis dan pengamen dilarang ada didalam gerbong kereta. Makanya sekarang banyak razia di kereta.
Lalu Sayapun bertanya kembali kepada Sholeh, “Kamu gak sekolah Leh?”. “Gak Mas, saya kabur dari rumah”. “Saya gak betah dirumah”, “Kenapa?” Tanya Saya. “Dirumah Saya gak dikasih makan sama ibu, masa anaknya sendiri gak dikasih makan Mas, ibu saya kejam”. “Udah gitu saya suka di sabetin pakai sapu lidi, nih ada bekasnya di punggung saya”. “Makanya Saya kabur, dari dirumah daripada gak makan mending saya dijalanan bisa bebas, Saya cari makan dengan menyapu di kereta, trus dapat uangnya dari penumpang yang ngasih seiklashnya”.
“Emang sekolah kamu sampai kelas berapa?”, Tanya Saya kembali. “Kelas 2 SMP, trus saya keluar sampai sekarang”.
“Kamu masih mau sekolah gak?’ tanya saya. “Gak ah, bukunya mahal, trus biaya sekolahnya gak ada udah gitu transportasinya kan pake duit, saya gak punya Mas”.
“Raport kamu ada gak?”, dia sedikit bingung aku tanya begitu. “Ada Mas, dirumah Ibu di Depok, “tapi gak tau naruhnya dimana!?”.
“Ya udah, besok kamu cek dulu di rumah, masih ada apa gak””. Kalau ada kasih tau Saya yah”. “Kamu biasa mangkal di sini kan ?, rumah saya dekat sini, jadi besok Insya Allah bisa ketemu lagi”, ungkapku.
Saat asyik mengobrol dengan Sholeh, ternyata kereta sudah datang. Dan, Istri ,anak saya, serta mertua sudah naik kedalam kereta.
Buru-buru aku bangun dari dudukku dan pamit sama Sholeh, “Leh, besok ketemu disini yah sore, jangan lupa raportnya”. “Okeh Mas Besok”, jawab Sholeh.
Sebelum kereta jalan, Sholeh memanggilku dari bawah. “Mas, kalau gak ada raportnya gimana?”. “Ya udah besok kita ngobrol lagi”, jawab aku.
Akhirnya kereta perlahan berjalan meninggalkan stasiun kereta Manggarai. Padahal aku masih ingin banyak mengobrol dengan Sholeh dan temannya.
Sebenarnya saya ingin membantu anak-anak seperti Sholeh bisa belajar dan sekolah lagi. Saya sering lihat distasiun Manggarai ini banyak sekali anak-anak seperti Sholeh yang putus sekolah dan mencari uang di kereta. Sayang sekali obrolan kami harus terputus karena memang kami harus pergi.
Mudah-mudahan Saya bisa bertemu lagi dengan Sholeh dan teman-temanya. Dan saya bisa membantu mereka sesuai kemampuan Saya dan teman-teman di Rumah Baca Zhaffa memberikan bimbingan belajar gratis.
Yudy Hartanto
Pengelola Rumah Baa Zhaffa
http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com
3 Feb
http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/28/0426231/buku.bacaan.untuk.para.petani
MAGELANG, MINGGU —
Rumah Baca “Komunitas Merapi” di lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, membuka akses buku-buku bacaan untuk anak-anak dan para petani setempat.
“Warga dusun juga butuh bacaan bermutu. Rumah baca ini diharapkan dapat membantu mereka, anak-anak dan petani,” kata Sukisno, penanggung jawab Rumah Baca “Komunitas Merapi” Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jateng, di Magelang, Sabtu.
Ia menjelaskan, pembangunan rumah baca tersebut dipelopori komunitas publik milis yang bernama “Komunitas Merapi”. Beberapa waktu lalu, milis “Komunitas Merapi” meluncurkan buku kumpulan cerita pendek bertajuk Opera Zaman (Grafindo, 2006) dan mendirikan rumah baca di salah satu daerah gempa di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Warga Dusun Gemer secara berkelanjutan bergotong royong membangun rumah baca itu di salah satu tempat di desa terakhir Gunung Merapi di perbatasan antara Provinsi Jateng dengan DI Yogyakarta.
Sukisno mengungkapkan bahwa pihaknya kini telah memiliki sekitar 400 buku dan masih mengharapkan bantuan dari pihak-pihak lain yang ingin menyumbangkan buku untuk pengembangan rumah baca itu.
“Warga lokal memang serius mendambakan kemudahan akses bacaan yang mendidik, bukan saja untuk anak tetapi juga petani setempat, supaya pengetahuan mereka terus berkembang,” katanya.
Sebagian besar warga setempat hidup dari pertanian terutama hortikultura.
Selama ini, katanya, anak-anak petani setempat relatif kurang beruntung karena kekurangan akses buku-buku bacaan.
“Padahal minat baca mereka cukup tinggi. Mereka menyadari bahwa membaca adalah ibu pengetahuan. Mereka memiliki komitmen tinggi sehingga membangun rumah baca,” katanya.
Ia menyatakan rumah baca itu bersifat independen dan tidak untuk tujuan komersial sebagaimana pelopornya yakni milis “Komunitas Merapi” yang menyebut program-programnya selama ini sebagai proyek amal.
Sejumlah pihak lain, seperti Komunitas Terminal Tiga, Penerbit Grafindo, Komunitas Cah Andong Yogyakarta, Komunitas “Koeln”, Jerman, dan Komunitas Melati, Jakarta, katanya, telah memberikan dukungan bagi terwujudnya Rumah Baca “Komunitas Merapi” itu.
Hingga saat ini, katanya, pihaknya terus menggalang bantuan berupa semua kategori buku anak hingga dewasa yang bersifat edukatif, baik untuk anak sekolah maupun petani.
“Rumah baca yang kami buka ini terbuka untuk siapa pun, dan sampai sekarang kami masih melanjutkan pembangunan permanen rumah baca ini,” katanya. (ANT)
3 Feb
oleh : agus m. irkham
http://kubukubuku.blogspot.com
DPR melalui rapat paripurna di Jakarta, awal Oktober 2007, telah mengesahkan Rancangan Undang-Undang Perpustakaan menjadi Undang-Undang. Keberadaan payung hukum tersebut diharapkan berdampak kepada membaiknya pembinaan perpustakaan di tanah air. Di dalam perundang-undangan baru itu, antara lain diatur tentang fungsi, tujuan, tugas, dan peran perpustakaan dalam membudayakan kebiasaan membaca.
Revitalisasi. Kata itu yang sepertinya paling pas untuk mengikat pamrih disahkannya UU tersebut. Apalagi perpustakaan, terutama perpustakaan pemerintah yang berada di kabupaten dan kota, tengah mengalami empat bentuk kepusingan.
Pertama, dalam persepsi penadbiran (tata kelola) pemerintah kota dan kabupaten, perpustakaan kerap dianggap lembaga yang hanya menghabiskan uang. Tidak berkontribusi pada pemenuhan lumbung kas/pendapatan daerah. Hal ini berakibat kepada minimnya anggaran untuk pengembangan perpustakaan. Serta menempatkan perpustakaan sebagai prioritas akhir dalam struktur pengeluaran pembangunan daerah. Tidak mengherankan ketika Anda mendengar ada sebuah perpustakaan daerah mengusulkan perbaikan sarana, sudah disetujui. Tetapi pada detik-detik akhir ketuk palu realisasi harus dibatalkan. Kalah bersaing dengan usulan proyek lain, meskipun proyek tersebut datang belakangan. Rupa-rupanya upaya membuat masyarakat memiliki keprigelan berbahasa, melek literasi (keberaksaraan), menjadi mengerti hak-haknya, kreatif dalam mensiati hidup, kritis terhadap kondisi lingkungan, dianggap tidak ada kaitannya dengan kemajuan pembangunan. Kemajuan, seluruhnya diukur dengan besaran-besaran ekonomi.
Kedua, adanya label buruk yang selama ini—entah siapa yang memelihara kelanggengan label itu—bahwa perpustakaan adalah tempat buangan pegawai yang bermasalah. Bermasalah bisa berarti kritis, sulit diatur, tidak mau berkompromi. Atau memang betul-betul bermasalah. Cilakanya, pegawai yang sebetulnya tidak memiliki jejak rekam buruk, ikutan-ikutan membenarkan sangkaan itu. Pernah saya dengar kabar dari seorang teman. Perpustakaan tempat ia bekerja mendapat satu tambahan pegawai—sebelumnya adalah guru. Usut punya usut ternyata penyebab mutasi lantaran berbulan-bulan mangkir ngajar! Mestinya label buruk tersebut dapat dijadikan sumber motivasi untuk perbaikan diri. Ancaman itu dapat diolah menjadi sebuah kesempatan. Kesempatan membuktikan bahwa perpustakaan bukanlah tempat buangan pegawai bermasalah. Tapi sebaliknya, tempat bagi berkumpulnya pegawai-pegawai yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaan. Dipuja atau dinista, tetap setia terhadap tanggung jawab. Gelas setengah kosong dimaknai setengah setengah penuh. Keterbatasan dana dan sarana bukan alasan pembenaran untuk berleha-leha.
Ketiga, terbatasnya pimpinan-pimpinan perpustakaan daerah yang berjiwa pemimpin (leader). Mereka kebanyakan belum mampu memerankan diri sebagai figur pemersatu bagi pencapaian tujuan organisasi. Alih-alih memotivasi anak buahnya agar bangkit dari keterpurukan akibat label buruk. Atau memberikan insentif kepada staf dan pustakawan yang memunyai kinerja/prestasi baik. Sehingga menciptakan gairah kompetisi yang sehat. Tak jarang yang ada justru berfikir sektoral. Pola manajemen sektoral dilakukan biasanya untuk menghindari terjadi mosi tidak percaya mayoritas staf terhadap pimpinan. Minimal akan aman dari upaya kudeta. Satu bukti sederhana, misalnya dimunculkannya satu kesan bahwa staf bagian pengolahan, merasa lebih penting ketimbang bagian pelayanan. Hingga ada idiom: tanpa uang layanan tidak jalan. Padahal keduanya ibarat dua sisi mata uang. Tidak berharga jika satu sisi tidak bermuka. Ironinya, pada beberapa kasus, menjadi pimpinan perpustakaan hanya dijadikan sekadar tempat transit atau singgah saja. Untuk kemudian meloncat ke dinas lainnya.
Keempat, masih terbatasnya para staf dan pustakawan yang memiliki ilmu dan kecintaan terhadap pekerjaannya. Kedengarannya memang agak ganjil, jika ada seseorang yang bekerja di perpustakaan, namun tidak suka membaca. Tapi itulah yang masih sering dijumpai. Mestinya mereka menjadi pihak pertama yang paling mencintai buku. Dan menjadi bukti terdekat betapa buku bisa membuat pembacanya menjadi lebih beradab, bukan sebaliknya: pemarah, dan bermuka jutek. Jika demikian, tidak berlebihan kiranya jika sistem rekrutmen pegawai perpustakaan harus memasukkan syarat kunci: mencintai buku. Lebih spesifik mencintai aktivitas membaca. Mereka harus menjadi orang pertama yang merasakan manfaat membaca buku. Hal itu penting mengingat para staf dan pustakawan merupakan pihak yang pasang badan dalam memasarkan kegemaran membaca dan menulis kepada masyarakat. Bagaimana mungkin bisa merayu orang agar gemar membaca sedangkan dirinya sendiri tidak suka baca
19 Jan

sumber : http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/03/17200729/saat.literasi.dibenamkan.televisi
Sabtu, 3 Januari 2009 | 17:20 WIB
Oleh Palupi Panca Astuti
Pernah mendengar hari tanpa televisi? Sejak tiga tahun terakhir, penetapan hari ini telah dikampanyekan beberapa lembaga yang prihatin terhadap konten atau isi tayangan di televisi. Sejumlah lembaga yang tergabung dalam Koalisi Nasional Hari Tanpa TV mengimbau para orangtua untuk mematikan televisi di rumah selama satu hari penuh dan menggantikannya dengan melakukan kegiatan yang lebih berguna.
Imbauan tersebut nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk pemberitaan dan hiburan melalui layar televisi. Pengaruh televisi dalam keluarga Indonesia tampaknya sudah demikian kuat menyatu dengan keseharian masyarakat. Data Bank Dunia tahun 2004 menunjukkan, ada 65 persen lebih rumah tangga pemilik televisi di Indonesia. Bentuk media audio visual yang menarik dan lengkap dari si ”tabung ajaib” menjadikan ia lebih digandrungi dibandingkan dengan produk budaya lain, seperti buku.
Hiburan yang disajikan mampu menarik mayoritas penduduk menekuni tayangan televisi dalam kegiatannya sehari-hari. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2006, lebih tiga perempat (86 persen) dari seluruh penduduk usia 10 tahun ke atas di Indonesia memiliki aktivitas rutin mengikuti acara televisi dalam seminggu.
Adapun untuk aktivitas literasi angkanya lebih kecil, yaitu 68 persen dari total jumlah penduduk usia tersebut yang membaca ragam sumber bacaan selama seminggu. Ragam bacaan yang ditekuni meliputi surat kabar, majalah, buku pelajaran, buku pengetahuan di luar buku pelajaran, dan buku cerita.
Minat baca
Televisi pada dasarnya adalah sebuah produk teknologi komunikasi. Tidak ada yang ”salah” dengan media yang menawarkan ragam tayangan audio visual tersebut. Hanya saja, pemanfaatannya saat ini dirasa semakin tak seimbang dengan porsi penggunaan produk sosial budaya lain, misalnya budaya membaca. Hal ini terbukti dari persentase penduduk yang memanfaatkan waktunya untuk menonton televisi jauh lebih banyak dibandingkan membaca.
Gejala rendahnya minat terhadap buku dimulai ketika terjadi booming televisi swasta di Tanah Air pada awal 90-an. Ketika televisi swasta pertama Indonesia lahir saat itu, hampir tidak ada yang menyangka jika pada satu dekade berikutnya akan ada belasan bahkan puluhan stasiun televisi swasta lain seperti sekarang ini dengan berbagai variasi tayangan.
Pada masanya dulu hanya televisi pemerintah yang mengudara dengan jam siaran terbatas dan komposisi acara hiburan yang juga terbatas. Aktivitas anggota rumah tangga, khususnya anak-anak, tidak melulu diwarnai dengan menonton televisi, tetapi juga membaca buku atau permainan yang mengandalkan olah fisik. Saat ini, sepulang sekolah, televisi dengan ragam acara hiburan dan saluran merupakan hiburan yang paling digemari anak-anak.
Daya tarik televisi sedemikian rupa sehingga ”pertemanan” anak dengan buku merupakan sesuatu yang langka. Jarangnya interaksi dengan bahan bacaan menjadi salah satu faktor penyebab kurangnya pemahaman seseorang dalam membaca.
Dalam sebuah studi internasional yang rutin dilakukan untuk mengetahui perkembangan kemampuan membaca anak, khususnya yang duduk di bangku kelas empat (sekolah dasar) menunjukkan total skor yang dicapai anak Indonesia adalah 405 (tahun 2006).
Posisi ini berada di peringkat 36 dari 40 negara peserta, Indonesia hanya menempati posisi di atas negara-negara Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan. Studi yang bernama Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) ini dilakukan setiap lima tahun untuk mengukur tren kebijakan dan pencapaian kemampuan membaca anak dan praktik yang berkaitan dengan literasi dan pemahamannya.
Sarana membaca
Akan tetapi, perilaku seseorang yang kurang menyukai buku bukanlah satu-satunya penyebab rendahnya minat baca. Akses bahan bacaan yang terbatas, antara lain karena mahalnya harga buku, turut menyumbang kemalasan orang membaca. Dalam jajak pendapat Kompas tentang buku beberapa waktu lalu, sebagian besar (60 persen) responden menyatakan bahwa harga buku, khususnya buku bacaan baik fiksi maupun non fiksi, tergolong mahal. Sebanyak 70 persen responden juga mengaku tidak memiliki anggaran khusus untuk membeli buku setiap bulan.
Demikian juga fasilitas perpustakaan umum dirasakan belum memadai. Di beberapa negara maju, perpustakaan yang menyediakan tempat membaca yang nyaman dengan koleksi buku yang cukup lengkap merupakan fasilitas publik yang relatif mudah ditemukan. Kondisi tersebut berbeda 180 derajat dengan Indonesia yang agak cukup sulit menemukan perpustakaan yang layak, nyaman, dan kaya akan koleksi buku. Dalam sebuah penelitian jajak pendapat di 12 kota besar di Indonesia, lebih dari 50 persen responden menyatakan sulit menemukan perpustakaan di sekitar tempat tinggal mereka.
Opini masyarakat tentang sulitnya mengakses perpustakaan cukup beralasan
2 Des
· Sumber : http://fatkur.pks-surabaya.or.id
Salah satu keinginan terbesar bagi para orang tua adalah melihat anak-anaknya bisa segera membaca bahkan gemar membaca. Bisa membaca dan gemar membaca jelas berbeda. Dibutuhkan suatu usaha bagi para orang tua agar kebiasaan membaca menjadi hal yang mengasyikan bagi anak sehingga menumbuhkan rasa gemar dan cinta anak pada buku hingga dewasa nanti.
Menurut para ahli, usia 1-5 tahun adalah masa emas (golden age) dalam perkembangan kecerdasan seorang anak. Selain makanan bergizi, dibutuhkan pula rangsangan-rangsangan dari luar yang mampu menstimulasi perkembangan otak balita hingga maksimal. Rangsangan itu bisa berupa buku-buku yang bermutu (bukan hanya bagus karena banyak buku yang bagus tapi tidak bermutu).
Anak “Meniru” orang tuanya
Salah satu proses pembentukan tingkah laku anak diperoleh dengan cara meniru. Anak-anak yang gemar membaca umumnya adalah anak-anak yang lingkungan sekelilingnya suka membaca pula. Mereka meniru kebiasaan ibu, ayah, kakak atau orang lain di sekitarnya yang suka membaca. Dengan demikian, orang tua dituntut tidak hanya menuntut anak, namun dapat memberi teladan yang baik, termasuk perilaku bersemangat mempelajari hal-hal baru. Memerintah anak berhenti main play station sementara Anda asyik di depan TV menonton film kesukaan, adalah contoh tauladan yang tidak benar. Keteladanan orang tua adalah hal yang penting dalam membuat anak gemar membaca. Apalagi sekarang sudag terjadi pergeseran konsep, dari pengasuhan motherhood menjadi parenthood. Konsep baru ini menitikberatkan pada peran orang tua, dan membuka peluang bagi keterlibatan ayah.
Sosok “Ayah” bagi sang anak
Ikatan antara ayah dan anak diakui memberikan warna tersendiri dalam pembentukan karakter anak. Hal ini dikarenakan karakter pria yang berbeda dengan sosok wanita yang akan memberikan sumbangan unik pada anak. Ayah membantu anak bersifat tegar, kompetitif, menyukai tantangan, dan senang bereksplorasi. Jika ibu memerankan sosok yang memberikan perlindungan dan keteraturan, sedangkan ayah membantu anak bebas bereksplorasi dan menyukai tantangan. Jika anak diasuh oleh keduanya secara optimal, maka akan terbentuk rasa aman dan percaya dalam diri anak.
Selain itu berdasarkan penelitian, dilihat dari sejarah kedekatan ayah-anak, anak perempuan yang dekat dengan ayahnya kelak memiliki keinginan berprestasi tinggi dan berani bersaing. Persepsi ayah saat memandang anak perempuannya akan menumbuhkan konsep diri, merasa layak dihormati, dan memiliki kompetensi. Anak perempuan akan cenderung terhindar dari hubungan pacaran yang tidak sehat, karena bisa menghargai diri sendiri seperti halnya ayah menghargainya.
Begitu pun bila ayah dekat dengan anak lelakinya, maka kemungkinan anak tersebut terjebak dalam masalah kenakalan remaja sangat kecil peluangnya. Ini disebabkan anak lelaki meniru model acuannya, yaitu ayahnya sendiri yang membantu anak berkembang. Anak akan lebih mudah menyerap nilai-nilai yang diberikan sang ayah pada dirinya.
Asyik Membaca bersama anak
Idealnya keterlibatan ayah dalam membangkitkan minat baca anak harus sudah dimulai sejak si kecil lahir, tetapi, banyak pria yang tidak cukup percaya diri menangani anak-anak dengan segala keunikan karakter mereka. Namun, tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai aktivitas bersama anak.Berikut beberapa aktivitas yang bisa dilakukan oleh sang ‘Ayah’, atau bersama-sama oleh kedua orang tua, agar si ‘anak’ dapat asyik dan bergairah membaca serta mencinta buku :
1. Mengenalkan Buku sejak lahir
Dari buku “Mendidik Anak dalam Kandungan” tulisan Ubes Nur Islam dikatakan bahwa bayi sudah bisa menyerap informasi melalui pengalaman- pengalaman sensasi yang diberikan sang ibu. Bahkan sang ayah bisa diajak bersama-sama berkomunikasi dengan si bayi. Eluslah perut anda, cari kepala sang bayi dan berkatalah padanya dengan lembut, “Nak, mari kita membaca bersama-sama. Ini ayahmu juga ada di sini. Kali ini ibu akan membacakan kisah nabi Musa as. Dengarkan baik-baik ya.” Beritahukan pada sang bayi bahwa anda sedang membaca untuknya. Nikmati sendiri, kaki bayi akan menendang-nendang tanda ia merespons kegiatan membaca tersebut.
2. Biasakan menunjukkan buku untuk si kecil
Buku-buku untuk balita biasanya memakai kertas yang lebih tebal dibanding buku umum lainnya. Istilahnya board book. Anda harus membaca kembali board book misalnya tentang binatang yang sudah sering anak anda dengar. Gunakan suara dan gerakan agar anak bisa asyik menedengarkan. Misalnya Anda membaca ‘je-ra-pah’ dengan lantang, tirukan bentuk jerapah dengan tangan anda. Kalau perlu perdengarkan suara asli jerapah padanya. Ketika membaca ‘si-nga’ bedakan nada suara anda dan mengaumlah untuk menunjukkan suara singa yang asli. Anda bisa memakai boneka binatang jika perlu. Balita anda akan mudah mengingat gerakan serta suara anda dan menirunya. Setiap kali ia membawa-bawa board booknya untuk diperlihatkan pada orang lain, ia dapat meniru kata tersebut. Inilah awal ia mencintai buku
3. Mendongeng Sebelum tidur
Seorang teman bercerita : “Abi..abi..umi..umi..cerita…cerita…”, rengekan anakku ketika aku mulai mengantuk setelah sekitar 15 menit mendongeng cerita seorang nabi. Mohammad Fauzil Adhim, dalam bukunya yang berjudul Positive Parenting, mengatakan bahwa karakter berbagai bangsa banyak dipengaruhi oleh berbagai cerita yang mereka dengar saat masih kecil. Tak heran bila kitab suci seperti Al-quran memuat beragam cerita nyata yang dapat dijadikan hikmah dan pelajaran bagi pembacanya. Dongengkan cerita pada anak kita menjelang tidur.
4. Berkunjung ke Toko Buku
Biasakan ada jadwal rutin ke toko buku dan kita ajak anak-anak kita. Berikan keleluasaan si anak untuk memilih buku sendiri tapi tetap memberikan ide buku apa yang boleh dibaca anak-anak atau tidak.
5. Mendapatkan buku Murah
Membaca buku toh tidak harus membeli buku, kita bisa membiasakan anak kita pergi ke perpustakaan dan meminjam beberapa buku yang baik untuknya. Jika memang harus beli kita bisa ajak ke Toko buku bekas atau pameran yang memberi diskon dan kita memborong beberapa buku sedikit agak banyak untuk anak kita.
Ingat, orangtua tidak bisa memiliki anak-anak yang gemar membaca apabila dirinya sendiri tidak suka dan rajin membaca. Anak-anak meniru tingkah laku orang-orang di sekitarnya, terutama orangtua. Inginkah anda memiliki anak-anak yang gemar membaca? Jadikan buku sahabat anda sekeluarga, dan ikuti kiat di atas tadi. Selamat membaca.
Komentar